Berita

1 2 3 9

International Seminar & Workshop: Sharia Governance on Islamic Financial Institution

Tangerang, 24 April 2019—Pertumbuhan sektor keuangan dan perbankan syariah di kawasan Asia Tenggara terjadi sangat pesat, data statistik menunjukkan bahwa Asia Tenggara telah menjadi salah satu pusat pengembangan industri keuangan Islam secara global. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, dua negara besar di Asia Tenggara, yaitu Indonesia dan Malaysia, menjadi penggerak dalam pengembangan industri keuangan dan perbankan syariah di antara negara-negara ASEAN, sehingga kondisi ini dapat mendorong negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara untuk berpartisipasi dalam pengembangan industri keuangan dan perbankan syariah.

 

Untuk meningkatkan pemahaman para akademisi, praktisi, maupun masyarakat umum mengenai industri Keuangan dan Perbankan Syariah di Indonesia dan Malaysia, Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Islamic Village bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) mengadakan Seminar Internasional dengan tema “Sharia Governance on Islamic Financial Institution”. Acara seminar internasional ini dilaksanakan pada tanggal 24 April 2019, dan bertempat di Ballroom Hotel Olive, Karawaci, Tangerang.

 

Pada seminar internasional kali ini, STES Islamic Village mendatangkan narasumber yang merupakan para praktisi dan akademisi yang ahli di bidangnya, antara lain Prof. Abdul Rahim Abdul Rahman (Deputy Vice-Chancellor (Academic and International), USIM (Universiti Sains Islam Malaysia)), Dr. Mohd. Rizal bin Muwazir (Senior Lecture University of Malaya), Dr. Cecep Maskanul Hakim (Analis Bank Senior, Bank Indonesia dan Dewan Pengurus Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS)), serta Dr. Herbudhi Setio Tomo (Direktur Eksekutif Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO)).

 

Dalam kegiatan Seminar Internasional ini, Prof. Abdul Rahim Abdul Rahman dan Dr. Mohd. Rizal bin Muwazir berkesempatan untuk menyampaikan materi mengenai kerangka kerja serta tata kelola syariah dalam lembaga keuangan syariah di Malaysia. Bank Negara Malaysia memastikan bahwa keseluruhan operasional sistem keuangan syariahnya sudah berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, hal tersebut didukung dengan diluncurkannya Guideline on Corporate Governance for Licensed Islamic Banks (BNM/GP1-i) dan Shariah Governance Framework 2011 (SGF 2011).

 

Berkaitan dengan tata kelola syariah yang diterapkan di bank syariah di Indonesia, Dr. Cecep Maskanul Hakim menjelaskan tentang konsep tata kelola syariah berdasarkan Dewan Syariah Nasional. Beliau menjelaskan bahwa tata kelola untuk Bank Syariah dan Unit Bisnis Syariah di Indonesia sudah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/33/PBI/2009 dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/13/DPbS. Sementara itu, Dr. Herbudhi S. Tomo memaparkan tentang implementasi Good Corporate Governance (GCG) di bank syariah. Dalam pengimplementasiannya, GCG diawali dengan membangun komitmen, lalu melengkapi dan menempatkan sumber daya yang tepat pada struktur perusahaan, kemudian prinsip-prinsip GCG dibuat melekat dalam kebijakan, pedoman, dan prosedur kerja, serta aturan internal lainnya. Selain itu, untuk memastikan jajaran perusahan dapat mengimplementasikan prinsip-prinsip GCG yang telah diinternalisasi dalam sistem perusahaan, maka tahapan berikutnya adalah mensosialisasikannya kepada jajaran perusahaan. Pada akhirnya, keberhasilan implementasi GCG tidak didapatkan secara instan, maka konsistensi dan keberlanjutan implementasi prinsip-prinsip GCG menjadi kunci penting dalam implementasi GCG.

 

Melalui seminar internasional yang menyajikan dua komparasi dalam tata kelola syariah di lembaga keuangan syariah di masing-masing negara, diharapkan bagi para peserta seminar dan workshop mampu memahami kondisi serta perbedaan di antara kedua negara tersebut, yakni Indonesia dan Malaysia. (STESIV/Nurul Mulia Wati)

MUKTAMAR IV IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia): Indonesia Menuju Pusat Ekonomi dan Keuangan Islam Dunia

Jakarta, 23 Agustus 2019—Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) merupakan sebuah organisasi yang didirikan pada Konvensi Nasional Ahli Ekonomi Islam di Istana Wakil Presiden RI (Republik Indonesia) di Jakarta, pada 3-4 Maret 2004.

Sumber: iaei-pusat.org

 

Tujuan dari didirikannya organisasi ini adalah agar terbinanya ahli Ekonomi Islam yang lebih berilmu, beramal dan berkhidmat untuk pengembangan ilmu, profesi dan pelaksanaan ekonomi Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta ikut bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

 

Pada 23-25 Agustus 2019, Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) melaksanakan Muktamar yang ke-IV yang dilaksanakan di The Ritz Carlton, Mega Kuningan – Jakarta. Muktamar merupakan forum tertinggi dalam Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) yang mana salah satu tujuan dilaksanakannya Muktamar adalah sebagai forum Pemilihan dan Penetapan Ketua Umum periode berikutnya. Pada Muktamar IV ini, diselenggarakan dalam rangka pertanggungjawaban kepengurusan periode tahun 2015-2019, dan pembentukan kepengurusan baru untuk periode tahun 2019-2023.

 

Sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang terdaftar sebagai Komisariat, STES Islamic Village berkesempatan untuk hadir dan berpartisipasi dalam Muktamar IV. Menjabat sebagai pengurus pusat, Hj. Atiqi Chollisni, S.E., M.M., Ph.D yang juga merupakan Ketua STES Islamic Village, beserta Dr. Sunardi, S.E., M.Si selaku pengurus komisariat dan juga Wakil Ketua STES Islamic Village, menghadiri acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut. Selain dilaksanakan sebagai forum Pemilihan Ketua Umum DPP IAEI periode 2019 – 2023, pada Muktamar IV juga dilaksanakan kegiatan lainnya, seperti Seminar Nasional Ekonomi Islam, Pelantikan Pengurus Wilayah dan Komisariat IAEI secara Nasional, Muktamar IAEI, serta Penyusunan struktur Dewan Pengurus Pusat IAEI periode 2019 – 2023.

 

Dalam kegiatan tersebut, IAEI kembali menjelaskan tentang misi dan program kerjanya. Antara lain 1) memberikan kontribusi nyata kepada pemerintah baik pemikiran konstruktif maupun aksi rill dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang berkeadilan (Pemikiran & Aksi Nyata), 2) menyiapkan sumber daya insani Indonesia yang berkualitas di bidang ekonomi dan keuangan Islam melalui lembaga pendidikan dan kegiatan pelatihan maupun pengembangan sertifikasi serta penyelenggaraan apresiasi lain (Pengembangan SDM), 3) membangun sinergi antar lembaga keuangan syariah, lembaga pendidikan dan pemerintah dalam membumikan Islam di Indonesia (Sinergi Kelembagaan), 4) Membangun jaringan dengan lembaga-lembaga internasional, baik lembaga keuangan, riset, maupun organisasi investor internasional (Jaringan Internasional), serta 5) memajukan ekonomi Islam melalui pengkajian dan aksi penelitian terhadap berbagai potensi kreatif untuk pengembangan dan pelaksanaan ekonomi Islam, baik nasional maupun internasional.

 

Hasil dari Muktamar ke-IV salah satunya adalah terpilihnya Sri Mulyani Indrawati sebagai Ketua Umum IAEI periode 2019-2023. Dengan dilaksanakannya Muktamar IV ini, diharapkan IAEI akan mampu memberikan kontribusi pemikiran secara aktif kepada pemerintah dan semua elemen masyarakat dalam melaksanakan pembangunan ekonomi. Selain itu, setiap pencapaian dan pengokohan organisasi IAEI mampu terevaluasi dengan baik melalui Muktamar IAEI, dan akan semakin mengokohkan peran IAEI dalam pembangunan Indonesia. (STESIV/Nurul Mulia Wati)

 

Pengembangan Zakat di Kota Tangerang dalam Mendukung Indonesia Menjadi Pusat Ekonomi Islam Dunia

 

Tangerang, 27 Maret 2019—Dengan jumlah penduduk Muslim di Indonesia yang terbilang cukup besar, yaitu sekitar 87% dari total penduduk Indonesia, Muslim di Indonesia sesungguhnya memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia melalui penerapan Ekonomi Syariah.

 

Sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1991, tren pasar terhadap Keuangan dan Perbankan Syariah terus menunjukkan perkembangan yang baik. Hingga saat ini, beberapa produk syariah telah mencapai market share di atas 5%, antara lain aset perbankan syariah sebesar 5,33% dari seluruh aset perbankan Indonesia, lalu sukuk negara yang mencapai 14,82% dari total seluruh Surat Berharga Negara (SBN) yang beredar. Jika dilihat dari sektor usaha, lembaga keuangan mikro syariah masih mendominasi sebagian besar jumlah aset yaitu 22,26%. Diikuti dengan lembaga jasa keuangan syariah khusus sebesar 9,93%, lalu lembaga pembiayaan syariah sebesar 7,24% dari total pembiayaan.

 

Berdasarkan Laporan Islamic Financial Service Board (IFSB), aset perbankan syariah Indonesia berada di peringkat ke-9 terbesar secara global dengan capaian sebesar USD 28,08 miliar. Melihat prospek Ekonomi Syariah di Indonesia yang cukup menjanjikan, maka para pemangku kepentingan perlu melakukan beberapa langkah untuk dapat meningkatkan pertumbuhan keuangan dan perbankan syariah di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi Islam di dunia.

 

Atas tujuan yang ingin dicapai tersebut, pemerintah Kota Tangerang bersama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tangerang melaksanakan Seminar Nasional Ekonomi Syariah yang bertemakan “Pengembangan Ekonomi Syariah di Kota Tangerang Menuju Indonesia Pusat Ekonomi Islam Dunia 2024”, yang bertempat di Gedung Akhlakul Karimah, Pusat Pemerintah Kota Tangerang. Tujuan dari diadakannya kegiatan seminar tersebut adalah sebagai penggerak dalam pengembangan ekonomi syariah di kota Tangerang, khususnya dalam pengembangan potensi zakat dengan melibatkan berbagai stakeholders, mulai dari Akademisi, Praktisi, dan Pemerintah.

 

Sebagai pembicara dalam kegiatan seminar tersebut, pakar ekonomi syariah, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, berkesempatan menjelaskan tentang prospek ekonomi syariah di berbagai sektor dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Tangerang. Berkaitan dengan zakat, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA (Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)) memaparkan tentang peran zakat sebagai pilar penting dalam arsitektur keuangan syariah di Indonesia. Selain itu, Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Muhammad Said, menjelaskan potensi zakat sebagai salah satu instrumen ekonomi syariah yang berperan dalam pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals).

 

Dalam kegiatan seminar yang dilangsungkan atas kerja sama antara Pemerintah Kota Tangerang dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tangerang, sebagai institusi pendidikan, Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Islamic Village juga ikut serta dalam mengatur keberlangsungan acara seminar tersebut bersama dengan BAZNAS Kota Tangerang.

 

Pada akhir kegiatan seminar ini, H. Arief Wismansyah, BSc., M.Kes (Walikota Tangerang), Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA (Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)), dan HM. Aslie Elhusyairy, S.Ag (Ketua BAZNAS Kota Tangerang) bersama-sama meluncurkan dan meresmikan Z-Mart, yaitu program pemberdayaan ekonomi dalam bentuk warung atau toko yang dimiliki oleh mustahiq dengan tujuan mengatasi kemiskinan di perkotaan. Dengan adanya program Z-Mart, diharapkan penerima dapat memenuhi indikator keberhasilan, seperti pendapatan di atas Upah Minimum Provinsi (UMP), dapat menabung, memiliki akses ke lembaga keuangan, usaha yang dijalankan berkesinambungan, serta melaksanakan kewajiban agama. (STESIV/Nurul Mulia Wati)

Stadium General dan Penandatangan MoU (Nota Kesepahaman) antara STES Islamic Village dan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS)

Tangerang, 26 November 2019—Dengan perkembangan sektor industri Keuangan dan Perbankan Syariah di Indonesia yang semakin meningkat, hal tersebut dapat dilihat dari semakin banyak dan bervariasinya produk serta layanan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan bank dan non-bank syariah di Indonesia.

 

Namun, perkembangan sektor industri Keuangan dan Perbankan Syariah ini masih belum didukung dengan adanya Sumber Daya Insani yang diharapkan, padahal sumber daya insani menjadi faktor penting serta salah satu aset yang berperan dalam perkembangan ekonomi syariah. Perkembangan zaman yang diikuti dengan pesatnya perkembangan teknologi menjadi salah satu tantangan dalam peningkatan kualitas sumber daya insani pada industri keuangan dan perbankan syariah.

 

Untuk menjawab tantangan tersebut, STES Islamic Village mengadakan Stadium General yang bertemakan “Optimalisasi Sumber Daya Insani dalam Pengembagan dan Penguatan Sektor Ekonomi dan Keuangan Syariah”. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 26 November 2019 dan berlokasi di Ruang Seminar, STES Islamic Village.

 

Dalam kegiatan ini, STES Islamic Village mengundang narasumber yang mampu menjawab serta memberikan solusi terhadap permasalahan mengenai sumber daya insani di industri keuangan dan perbankan syariah. Narasumber tersebut antara lain, Dr. Taufik Hidayat, M.Ec  selaku Direktur Hukum, Promosi, dan Hubungan Eksternal Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), serta Umi Waheedah, M.A. selaku Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Iman Bogor. Dalam kesempatan ini, Dr. Taufik Hidayat, M.Ec memaparkan tentang kriteria sumber daya insani yang dibutuhkan oleh industri keuangan dan perbankan syariah, sehingga SDI mampu mempersiapkan kemampuan baik hard-skill maupun soft-skill serta tepat guna terhadap industri yang membutuhkan. Selain itu, Umi Waheedah, M.A. juga menjelaskan mengenai praktik dari setiap sumber daya insani yang berperan dalam operasional pondok pesantrennya dan bagaimana mereka mampu memproduksi serta menghasilkan kebutuhan pokok untuk keberlangsungan kehidupan pondok pesantren.

 

Di akhir kegiatan, STES Islamic Village melakukan penandatanganan MoU (Nota Kesepahaman) dengan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang mana hal tersebut untuk meningkatkan kerja sama STES Islamic Village dengan pihak eksternal untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian Kepada Masyarakat. Komite Nasional Keuangan Syariah merupakan suatu komite yang dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia dan Wakil Presiden Republik Indonesia, kemudian terdapat dewan pengarah yang beranggotakan sepuluh pimpinan dari unsur pemerintahan dan otoritas terkait. KNKS menyatakan bahwa saat ini Indonesia merupakan negara dengan perkembangan sektor industri keuangan dan perbankan syariah terpesat di dunia. (STESIV/Nurul Mulia Wati)

Wisuda Bersama Pendidikan Tinggi Islamic Village Tangerang Tahun Akademik 2018-2019

Tangerang, 31 Oktober 2019—Wisuda merupakan proses akhir dari rangkaian kegiatan dan tahapan proses pendidikan yang telah dijalani oleh setiap mahasiswa.  Wisuda dapat pula dikatakan sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan bagi mahasiswa yang telah dinyatakan lulus dan berhasil menyelesaikan pendidikannya, baik pada Strata Satu (S1) pada sarjana maupun Diploma III (D3).

 

Dalam penyelenggaraannya, para mahasiswa/i yang telah menyelesaikan pendidikannya dan dinyatakan lulus, akan dilantik dan mengucap janji sebagai wisudawan dan wisudawati. Selain itu, para wisudawan juga dibekali dengan gambaran mengenai Revolusi Industri 4.0 yang sudah berlangsung di Indonesia dan di belahan dunia lainnya serta bagaimana untuk tetap bermanfaat dan memiliki peran di tengah-tengah ketatnya perindustrian.

 

Acara wisuda bersama yang dilaksanakan oleh Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Islamic Village, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Islamic Village, dan Sekolah Tinggi Teknik (STT) Cendekia diselenggarakan pada 31 Oktober 2019 dan bertempat di Ballroom Hotel Olive, Karawaci, Tangerang. Proses wisuda diikuti oleh 110 wisudawan, dengan rincian sebanyak 40 wisudawan dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), 40 wisudawan dari Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES), dan 30 wisudawan Sekolah Tinggi Teknik Cendekia (STTC).

 

Pada acara wisuda kali ini, Wakil Koordinator Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A., berkesempatan menyampaikan orasi ilmiah yang bertemakan “Peran Sarjana Muslim Milenial Dalam Era 4.0”. Di tengah meningkatnya kemajuan di bidang teknologi, para wisudawan diharapkan mampu bersaing secara kemampuan dengan teknologi yang semakin terotomatisasi.

 

Dengan dilaksanakannya acara wisuda bersama, diharapkan wisudawan tetap mampu menjaga nama baik almamater serta berperan besar dalam masyarakat dan negara melalui ilmu yang sudah dipelajari selama masa perkuliahan. (STESIV/Nurul Mulia Wati)

Walikota Tangerang Optimis Akan Menjadi Kiblat Ekonomi Syariah di Indonesia

TANGERANG, bungasbanten.co.id – Walikota Tangerang H.Arief R.Wismansyah hadir dan menjadi keynote speaker dalam acara Seminar Nasional Ekonomi Syariah yang dihadiri sekitar 600 peserta dari kalangan akademisi dan masyarakat Kota Tangerang. Acara berlangsung digedung MUI Kota Tangerang. Rabu (27/03/2019).

Seminar yang digagas oleh Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Islamic Village bekerja sama dengan Baznas Kota Tangerang, Mengusung tema “Pengembangan Ekonomi Syariah di Kota Tangerang Menuju Indonesia Menjadi Pusat Ekonomi Islam Dunia Tahun 2024”.

Dalam sambutannya, Arief berharap pengembangan Ekonomi Syariah di Kota Tangerang dapat mensejahterakan masyarakat,

melalui program ZMart, yaitu program pemberdayaan ekonomi dalam bentuk warung atau toko, yang dimiliki mustahik untuk mengatasi kemiskinan diwilayah Kota Tangerang.

“Jadi bentuknya usaha kecil seperti warung, kita bantu untuk berkembang bermitra dengan Baznas Kota Tangerang,” ucapnya.
Masih dikatakan Arief, berharap ZMart dapat tumbuh dan berkembang, berdasarkan data ada 1.000 lebih warung yang siap bermitra, kalau bisa kita bangun semuanya secara bertahap.
“Arief optimis Kota Tangerang akan menjadi Kiblat Ekonomi Syariah di Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Baznas Kota Tangerang KH.M.Aslie Alkusaeri, menuturkan pihaknya siap untuk terus menambah Zmart yang sudah berjumlah 75 warung atau toko.

“Kita akan tambah terus, tetapi memang belum ada target, namun yang pasti dananya kita salurkan ini bermanfaat untuk umat,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana, Abdul Rahman, sangat berterima kasih kepada Walikota Tangerang yang telah mendukung pengembangan ekonomi syariah, Rahman optimis dengan adanya dukungan dari Pemerintah Kota Tangerang, akan kampu menjadi kiblat ekonomi syariah di Indonesia bahkan dunia, tandas Rahman yang juga Dosen di STES Islamic Village.

Seminar dilanjut sesi pertama dengan tema “Zakat menjadi Pilar Penting Dalam Dalam Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia”, Sebagai Pembicara Dr.Emmy Hamidiyah MSi. (Komisioner Baznas Indonesia) dipandu moderator Subur Amin Mubarok (Wakil Ketua Baznas Kota Tangerang).

Sesi kedua dengan tema “Prospek Ekonomi Syariah Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Kota Tangerang, selaku Pembicara “Dr.Irfan Syauqi Beik, MSc (Pakar Ekonomi Syariah). Sebagai Moderator Mayang Ayu Falathumia, S.Pd, M.Kesos (Dosen STKES Islamic Village).

Dilanjut sesi terakhir bertema “Zakat,Infaq, Shodaqoh, Instrument Ekonomi Syariah Dalam Pencapaian SDGS”, sebagai pembicara Prof.Dr. Muhammad Said (Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Syarief Hidayatullah Ciputat). sebagai moderator Oom Komariah SE,MM, MS.i Dosen STES Islamic Village. (Aries Sundoro)

SEMINAR INTERNASIONAL & WORKSHOP “SHARIA GOVERNANCE ON ISLAMIC FINANCIAL INSTITUTION”



Tahukah anda?

Kawasan Asia Tenggara saat ini menjadi kawasan yang sedang tumbuh menjadi pusat pengembangan industri keuangan syariah di dunia. Indonesia dan Malaysia, merupakan dua negara yang menjadi motor penggerak perkembangan industri keuangan syariah di Asia Tenggara.

Perkembangan industri keuangan syariah khususnya sektor perbankan tentunya membutuhkan sistem tata kelola yang memiliki pendekatan yang berbeda dengan sistem tata kelola lembaga keuangan pada umumnya. Hal ini disebabkan adanya keharusan bagi lembaga keuangan syariah untuk memastikan terlaksananya prinsip-prinsip syariah pada seluruh aspek terutama pada produk, operasional maupun manajemen.

Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.11/33/PBI/2009 untuk secara khusus mengatur tata kelola untuk Bank Syariah yang berdasarkan prinsip syariah. Namun, pada kenyataannya, sebagian besar lembaga keuangan syariah terutama perbankan mengalami beberapa kendala maupun tantangan dalam penerapan sharia governance.

Oleh karena itu, Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah Islamic Village bekerjasama dengan Bank Indonesia dan ASBISINDO mengadakan Seminar Internasional dan Workshop tentang ” Sharia Governance On Islamic Financial Institution”. Yang Insyaa Allah akan menguatkan pemahaman maupun impelementasi tata kelola syariah yang sesuai dengan nilai-nilai ilahiyah.

Dapatkan ilmunya dari para pakar akademisi dan praktisi di bidang ini, pada ;
– Hari/ Tgl : Rabu, 24 April 2019
– Waktu : 8.30 -16.00 wib
– Tempat : Hotel Olive jl. Imam Bonjol No.777 Tangerang

Pembicara :
1. Assoc.Prof. Dr. Syed Musa Alhabshi (Dekan Institute Islamic Banking and Finance International Islamic University Malaysia)*
2. Assoc. prof. Dr. Mohd Rizal Bin Muwazir ( Senior Lecturer Faculty of Sharia and Management Malaya University; Visiting Scholar Lancaster University, UK)
3. Dr. Cecep Maskanul Hakim ( Senior Bank Analyst Central Bank Indonesia: Plenary Dewan Shariah Nasional; Sharia committee member International Liquidity Management)
4. Dr. Herbudhi Setio Tomo ( Direktur Eksekutif ASBISINDO; Member of Bank Muamalat Auditor)

Registration Fee :
Praktisi/Banker/Umum : Rp 500.000,- (Seminar dan Workshop)
Akademisi : Rp 350.000,- (Seminar dan Workshop)
Mahasiswa : Rp 175.000,- (seminar only)
Fasilitas : Sertifikat, seminar kit, snack and lunch

Biaya pendaftaran dapat ditransfer ke STES Islamic Village No: 044 940 9081 (BNI syariah)

Daftarkan diri dan institusi anda segera di:
Kontak person : dewi ( +62 856 9153 7287) .

1 2 3 9