BANK SYARIAH ANTI GALAU

stes article

Pendahuluan

Nilai tukar rupiah belakangan ini sudah diatas Rp 10.000, hal ini mencerminkan bahwa perekonomian kita sangat rentan  terhadap gejolak mata uang dollar. Kenapa demikian, karena   aktifitas bisnis yang dilakukan di dunia selama ini adalah tidak terlepas dari sistem ekonomi liberalis/kapitalis yang dijadikan acuan untuk bertransaksi. Mengingat yang melatar belakangi terjadinya transaksi perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) salah satunya adalah liberalisme ekonomi melalui perdagangan luar negeri.[1]

Namun kenyataannya setelah sistem liberalis itu digunakan terjadi krisis dunia berkepanjangan dan berkelanjutan yang diawali dari Negara Amerika Latin, sebagai contoh Argentina, Mexico dan masuk ke Asia yang terjadi Isu mengenai transmission of financial crisis muncul kembali dengan adanya krisis keuangan di Asia. Bangkrutnya beberapa perusahaan dan devaluasi bath mengawali krisis di Thailand Juli 1997 (Kleimeier, Lehnert dan veraschoor, 2003) tidak hanya terbatas mempengaruhi sektor keuangan di Thailand tetapi juga telah menyebar menjadi krisis keuangan di negara Asia lainnya. [2]

Sebelum 1997, pertumbuhan ekonomi nasional meningkat secara pesat, Kurs rupiah Icenderung stabil, investasi asing terus meningkat, swasta diberi kesempatan meminjam kepada kreditur asing. Stabilnya nilai rupiah itu membuat para peminjam merasa tidak perlu untuk melindungi nilainya terhadap mata uang asing atau bahasa teknisnya rupiah tidak di-hedging.  Tidak adanya perlindungan terhadap rupiah itu belakangan membawa musibah, tatkala Indonesia dihantam krisis moneter. Gonjang-ganjing itu diawali pada Juli 1997.  Waktu itu mata uang sejumlah negara Asia, yaitu Korea Selatan, Thailand, Malaysia, menurun drastis. Nilai tukarnya terhadap mata uang asing terutama dolar, jatuh. Gonjang-ganjing moneter itu merembet ke Indonesia. Peristiwanya diawali dengan merosotnya nilai rupiah terhadap mata uang dolar. Gejolak kurs itu banyak bank mengalami rugi, terutama mereka yang mempunyai pinjaman mata uang asing.  Bank-Bank yang tidak melindungi nilai kurs pinjaman vauta asingnya, jumlahnya sangat banyak. Mereka rugi besar, akumulasi kerugian bank akibat gejolak kurs, ditambah dengan memburuknya arus kas (cash flow) menyebabkan kesulitan likuiditas. Perusahaan-Perusahaan yang mempunyai pinjaman jangka pendek dalam valas, baik kepada kredit luar negeri maupun kepada bank-bank dalam negeri, juga kena imbasnya. Mereka kesulitan untuk memenuhi kewajibannya kepada bank. Akumulasi kerugian karena gejolak nilai tukar, ditambah memburunya cash flow akibat banyaknya kredit bermasalah, menyebabkan terjadinya lingkaran setan krisis  ekonomi keuangan dan perbankan. Kebijakan pengetatan likuiditas yang diambil pemerintah menyebabkan terjadinya kelangkaan likuiditas di Perbankan. Akibatnya suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) melonjak tinggi. Kondisi ini semakin diperburuk dengan adanya penarikan rupiah besar-besaran pada sejumlah bank untuk membeli Dolar Amerika. Ini mengakibatkan banyak bank yang melanggar ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM), dimana beberapa bank saldonya di Bank Indonesia mengalami saldo debet. Akibatnya hampir seluruh bank menghadapi kesulitan likuiditas dalam jumlah besar Maka pada penghujung krisis Presiden Republik Indonesia membuat keputusan agar Menteri Keuangan dan Bank Indonesia memberikan bantuan kepada bank-bank yang kekurangan likuiditas dan modalnya

Krisis keuangan-pun melanda Amerika Serikat dan dan sekutunya Eropa.KhususAmerika Serikat sebagai negara yang mempelopori sistem liberalisme sedang mengalami kesulitan keuangan, dimana hutang Amerika Serikat per 1 Juni 2010  Sam tersebut.

Disamping itu Pejabat Departemen Kehakiman di Washington Amerika Amerika Serikat telah menahan 485 orang yang terlibat kredit perumahan. Kekacauan kredit di sektor perumahan menjadi pemicu utama krisis ekonomi Amerika Serikat pada September 2008, yang menjalar keseluruh dunia.[3]

Inilah jawaban dari bukti kesombongan manusia yang tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat ke 2, yang artinya; “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.   Dan juga dari penggalan ayat 185 (surat Al-Baqarah), disebutkan bahwa; “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)……………”

 

Bank Syariah Ditengah Kegalauan Ekonomi Dunia

 

Bank Syariah dalam menjalankan operasionalnya senantiasa mengacu kepada prinsip syariah Islam.  Prinsip Syariah Islam bersumber dari Al-Qur’an dan As-sunnah ditambah dengan Qiyas dan Ijma.  Secara operasional produk yang ditawarkan  perbankan syariah adalah bagi hasil dan jual beli yang mengacu kepada pelarangan riba, gharar dan maysir.  (Ini akan dibahas pada buletin terbitan berikutnya).

Sedangkan kata galau  menggambarkan situasi yang menggelisahkan. Situasi yang sama sekali tidak diharapkan, dengan ciri;  cemas, gelisah dan apa yang dilakukan serba salah.

 

Padahal kita sudah diingatkan Al-Qur’an dalam surat An-Nas : 1 – 6; yang artinya, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Robb-nya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan kedalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.'”

 

Syaitan memang hobi menggoda manusia dengan cara membisikkan kegalauan dalam dada kita. Artinya, syaitan itu memang  membisikkan dalam dada kita keburukan, kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, dan kegalauan. Padahal kegalauan itu tidak perlu terjadi jika kita  berlindung pada Allah Swt. dari segala keburukan yang telah atau akan menimpa diri kita.

 

Sedangkan maksud dari judul Bank Syariah ditengah kegalauan ekonomi dunia, bahwa dalam praktiknya Bank Syariah telah terbukti tahan terhadap krisis ekonomi dan keuangan baik tahun1997 dan tahun 2010 yang berkepanjangan yang pada akhirnya menjadi krisis global.  Ekonomi Islam melalui Bank Syariah menjadi pilihan dalam mengatasi krisis ekonomi dan keuangan global dimaksud. Dimana saat ini sudah banyak negara-negara yang berpenduduk non muslim menerapkan sistem ekonomi Islam dengan Bank Syariah sebagai lembaga keuangan pilihannya. Disamping itu Bank Syariah berorientasi dunia dan akherat (falah oriented), dimana dalam konsep dan praktiknya tidak memisahkan antara ilmu dan agama dengan kata lain Bank Syariah tidak kering dengan nilai-nilai spirituil. Disinilah letak ketidakgalauannya, dimana segala sesuatunya tidak terlepas dari sandaran Al-Qur’an, As-Sunnah, Qiyas dan Ijma.  Artinya kalaupun ada konsep atau praktik Bank Syariah dalam ijtihad-nya itu salah masih mendapat nilai 1 (satu) dan kalau benar nilainya 2 (dua).

Sedangkan dari sisi perkembangannya Bank Syariah di Indonesia cukup menggembirakan, dimana berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia melalui Outlook Perbankan Syariah 2012;  Secara kelembagaan, jaringan perbankan syariah meningkat menjadi 11 BUS (Bank Umum Syariah), 23 UUS (Unit Usaha Syariah) dan 154 BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah) , dengan total jaringan kantor mencapai 1.688 kantor dan 1.277 office chanelling.

 

Kesimpulan

1. Manusia tidak sepenuhnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pentunjuk  

    manusia

2. “Seandainya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, tentu kami akan membuka  

    baginya berkah-berkah dari langit dan bumi ……..” (Al-A’raf : 96).  

Drs. H. Muklis, M.M.



[1]Amir MS, Pengetahuan ekspor dan impor teori dan aplikasi, aksara, 2001

[2]Kleimeier, Stefanie, Thorsten, Lehnert  dan Wilem F.C. Verschoor, 2002

[3] Sofyan S. Harahap, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam, tahun 2011

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *