Berita

STES Islamic Village Teken MOU Dengan PT. Sun Life Financial Syariah “Ciptakan Mahasiswa Ahli Dibidang Asuransi Syariah”

Tangerang, TRM

Sekolah Tinggi Ekonomi Syari’ah (STES) Islamic Village Karawaci Tangerang Senin (22/10/2018) menggelar Seminar Nasional yang mengambil tema ” Perkembangan Asuransi Syari’ah di Era Industri 4.0″ dalam kegiatan akbar tersebut Hj Atiqi Cholisni, SE, MM, Ph.D yang saat ini menjabat ketua STES Islamic Village di tunjuk menjadi Keynote Speech.

 

Dengan Narasumber Prof. Dr. Fathurrahman Djamil, MA Pakar Ekonomi Syariah sekaligus Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN – MUI), narasumber berikutnya yakni Darmawati, S.Si, M.Si, CFP Praktisi Asuransi Syariah sekaligus National Agency Director PT. Sun Life Financial Syariah.

 

Dalam kesempatan itu Fathurrahman mengatakan, Peran Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) dalam perkembangan lembaga keuangan syariah di Indonesia sangat penting.

Pernyataan beliau, dikuatkan pula oleh , Narasumber Darmawati yang menyatakan bahwa pada tahun 2024, potensi lembaga keuangan syariah terutama perusahaan asuransi syariah sangat besar.

“Terutama dalam menyerap sumber daya manusia (SDM) yang berasal dari perguruan tinggi dengan program S1 Ekonomi Syariah dan Perbankan Syariah seperti STES Islamic Village.

Oleh karena itu, perlu adanya kerjasama yang kongkrit untuk menyiapkan SDM tersebut,” imbuhnya.

 

Ketua Panitia seminar Nasional Samsudin memyampaikan bahwa acara ini berjalan sukses karena dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, pengusaha, praktisi maupun akademisi dari berbagai Universitas se Jabodetabek.

“Acara tersebut diharapkan dapat memberikan banyak ilmu dan pemahaman terhadap pentingnya menghidupkan lembaga keuangan syariah terutama asuransi syariah,” kata Syamsudin.

Sementara itu Hj. Atiqi Chollisni, SE, MM, Ph.D mengatakan, Bahwa Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia terutama Asuransi Syariah mengalami perkembangan signifikan.

“Oleh sebab itu, STES Islamic Village selaku akademisi sangat concern dalam mengambil peran pada isu-isu ekonomi syariah terutama persoalan Asuransi Syariah yaitu bekerjasama dengan PT. Sun Life Financial Syariah,” paparnya.

Dia mengapresiasi ketua Panitia yang telah sukses mengagendakan kegiatan akbar tersebut.

“Selanjutnya, perlu diadakan kembali acara ini dengan kapasitas lebih besar dalam rangka mengedukasi masyarakat akan pentingnya berhijrah ke lembaga keuangan syariah,” sambungnya.

Selain sekedjul Seminar Nasional, Terang Atiqi, STES Islamic Village juga menandatangani MOU dengan PT. Sun Life Financial Syariah untuk melakukan kerjasama dalam melaksanakan kegiatan Edukasi, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat terutama dalam sektor asuransi syariah.

“Penandatanganan MOU ini diharapkan dapat membantu mahasiswa agar siap terjun ke lapangan kerja maupun mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat dan pemerintah setempat tentang pentingnya asuransi syariah,” jelas Wanita Canitik berkacamat ini. (dam)

KPU goes to STES Islamic Village

Sebagai salah satu metode edukasi kepada para Dosen dan Mahasiswa tentang demokrasi, Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Islamic Village, melalui BEM, mengundang Komisi Pemilihan Umum (KPU) Propinsi Banten dan KPU Kabupaten Tangerang. Pada saat yang sama, masyarakat Kabupaten Tangerang akan menjalani pesta demokrasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Tangerang pada 27 Juni 2018. Continue reading

STES Islamic Village in Banten Expo

Banten Expo 16 /d 18 Januari 2018 yang dilaksanakan pada Mall @alamsutra Alhamdulillah dapat berjalan dengan sukses dan lancar. pada banten expo ini stes mengutus tim PMB yang solid untuk memperkenalkan dan mempromosikan STES Islamic Village. Keunggulan dari STES ini adalah fakultasnya yang berbasis syariah. Sehingga calon mahasiswa dapat pemehaman perbedaan antara perbankkan syariah dan perbankkan koonvensional. Continue reading

Kuliah Umum From Campus To Be an Entreprenur

Alhamdulillah sudah dilaksanakanya kuliah umum JIHAD ENTREPRENEUR yang di hadiri oleh mahasiswa/i perguruan tinggi Islamic village yang pada tanggal : Jum’at, 12 Januari 2018 yang diakan oleh FOSSEI Islamic Village dan dibuka oleh Ketua STES Islamic Village yaitu Ibu Dr. Hj. Dewi Reni, SE., Ak., M.Si., CA. Setelah di buka oleh ibu Dewi Reni acara dimulai dari pembicara Pertama yaitu Ibu Hj. Atiqi Chollisni, SE., MM., P.hD dan dilanjutkan Pembicara selanjutnya Ibu Ayu Tresna, SE., MA. Continue reading

Studi Banding STES Islamic Village ke UII Yogyakarta

Sebagai salah satu metode pembenahan kampus STES Islamic Village, para Dosen dan Staf melakukan studi banding dengan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pada tanggal 10 s/d 11 Januari 2018. Studi banding ini disambut hangat oleh Dekan Fakultas Ekonomi Dr. Drs. Dwipraptono Agus Harjito, M.Si dan Wakil Dekan Suharto, SE., M.Si.. Adapun materi studi banding, antara lain : Continue reading

Ilmu Waris : Ilmu yang Pertama Kali dicabut

Oleh : Maskur Rosyid, MA.Hk

Ilmu Waris atau Farā’idl adalah ragam ilmu pengetahuan Islam yang membahas tentang seluk-beluk pembagian harta warisan (tirkah). Waris atau (الارث) atau (الميراث) secara bahasa dimaknai sebagai tetap dan berpindah. Sementara secara istilah dimaknai sebagai berpindahnya harta seseorang (yang mati; pewaris) kepada orang lain (ahli waris) sebab adanya hubungan kekerabatan atau karena hubungan perkawinan (مصاهرة) dengan syarat dan ketentuan yang berlaku dalam syariat Islam.

Sedangkan harta peninggalan atau harta warisan dikenal dengan tirkah (التركة) yaitu (a) segala yang dimiliki seseorang sebelum dia meninggal, baik berupa benda maupun hutang, hak atas harta, hak khiyar dalam jual beli, hak menerima ganti rugi, dan qishash atau diyat. (b) segala hal yang menjadi miliknya karena kematiannya, dan (c) segala harta yang dimilikinya setelah dia meninggal.

Para ulama madzhab sepakat bahwa tirkah tersebut beralih kepemilikannya kepada ahli waris sejak kematian pewaris, dengan syarat tidak ada hutang dan atau wasiat. Selain itu, mereka juga sepakat tentang beralihnya kepemilikan atas kelebihan hutang dan wasiat kepada ahli waris, namun berpeda pendapat dalam masalah hutang dan wasiat yang jumlahnya sama dengan tirkah. 1) Hanafiyah berpendapat bahwa bagian yang nilainya sama dengan jumlah hutang tidak dimasukkan ke dalam milik ahli waris. 2) madzhab al-Syāfi’iyyah dan mayoritas Hanābilah mengatakan bahwa pemilikan ahli waris masih ada dalam tirkah.

Kewarisan dalam Islam diatur dalam beberapa dalil sebagai berikut. Surah al-Nisā’ (4): 11-12, Surah al-Nisā’ (4): 176, Hadis Nabis Riwayat A’raj yang artinya; “Dari A’raj radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku”. (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim), Hadis Nabi saw. riwayat al-Hākim yang artinya; “Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang-orang. Dan pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkan kepada orang-orang. Karena Aku hanya manusia yang akan meninggal. Dan ilmu waris akan dicabut lalu fitnah menyebar, sampai-sampai ada dua orang yang berseteru dalam masalah warisan namun tidak menemukan orang yang bisa menjawabnya”. (HR. Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim), dan Atsar Sahabat (Umar Bin Khattab) yang artinya “Dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu beliau berkata, “Pelajarilah ilmu faraidh sebagaimana kalian mempelajari Al-Quran”. (HR. Ad-Daruquthunī dan Al-Hakim)

 

Sejarah

Sistem pembagian waris sudah dikenal bahkan jauh sebelum Islam datang. Zaman Jahiliyah misalnya, bangsa Arab sudah menerapkan pembagian waris yang merugikan kaum wanita. Saat itu, yang berhak mendapatkan hak waris dari orang yang meninggal dunia hanyalah kaum Adam. Namun, tidak semua laki-laki bisa memperoleh harta warisan. “yang boleh mewaris hanyalah laki-laki dewasa yang telah mahir naik kuda dan memanggul senjata ke medan perang serta memboyong harta ghanimah (rampasan perang)” ungkap Dr Moch Dja’far dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. Menurut Dja’far, asalkan memenuhi syarat mampu berperang, seorang lelaki dewasa tidak peduli masuk kategori nasab, anak angkat, dan bahkan lahir di luar nikahpun dapat mewarisi.

Faktor-faktor  yang memungkinkan seseorang bisa menjadi ahli waris pada tradisi Arab Jahiliyah antara lain; pertama, nasab atau kerabat (bersyarat), kedua, anak angkat (bersyarat) dan ketiga, sumpah setia antara dua orang yang bukan kerabat dengan kata-kata.  Dengan demikian, meskipun anak kandung jika tidak bisa menunggang kuda atau berperang, dia tidak akan mendapatkan warisan. Sementara orang lain, jika terjadi sumpah maka orang lain tersebut berhak mendapatkannya. Bahkan perempuan tidak saja tidak mendapatkan warisan, ia menjadi benda yang diwariskan.

System tersebut kemudian diubah oleh Nabi Muhammad saw. dan sekaligus merombak sistem kepemilikan atas harta benda, khususnya harta pusaka. Menurut Ensiklopedi Islam, struktur masyarakat Arab pra-Islam amat dipengaruhi oleh kelompok-kelompok kesukuan, sehingga harta pusaka menjadi milik sukunya. Rasulullah saw. memperkenalkan sistem hukum pembagian waris yang sangat adil. Setiap pribadi, baik laki-laki maupun perempuan berhak memiliki harta benda. Selain itu, kaum perempuan juga berhak mewariskan dan mewarisi seperti halnya kaum Adam.

 

Waris di Era Awal Islam 

Sebelum turun Ayat Alqur’an tentang waris, di awal perkembangan Islam masih berlaku landasan pengangkatan anak dan sumpah setia untuk dapat mewarisi. “Lalu berlaku alasan ikut hijrah serta alasan dipersaudarakannya sahabat Muhajirin dan Ansar” papar Dja’far. Yang dimaksud dengan alasan ikut hijrah adalah jika seorang sahabat Muhajirin wafat maka yang mewarisinya adalah keluarga yang ikut hijrah. Sedangkan, kerabat yang tidak ikut hijrah tidak mewaris. Jika tidak ada satupun kerabatnya yang ikut hijrah maka sahabat Ansar lah yang akan mewarisinya.  Hal inilah maksud perbuatan Nabi saw. mempersaudarakan  sahabat Ansar dan Muhajirin. Di awal perkembangan Islam, Rasulullah saw. juga mulai memberlakukan hak waris-mewarisi  antara pasangan suami-istri.

Nabi Muhammad SAW kemudian memberlakukan kewarisan Islam dalam sistem nasab-kerabat yang berlandaskan kelahiran. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam Alqur’an Surah al-Anfāl Ayat 75. Dengan berlakunya sistem nasab-kerabat maka hak mewarisi yang didasarkan atas sumpah setia dihapuskan. Warisan atas alasan pengangkatan anak juga telah  dihapuskan sejak awal kedatangan Islam. Hal itu mulai diberlakukan sejak turunnya firman Allah SWT. yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menghapus akibat hukum yang timbul dari pengangkatan Zaid bin Haris sebagai anak angkatnya. (QS. 33: 5, 37, dan 40).

Pada zaman sebelum ayat waris turun, Rasulullah saw. kedatangan isteri Sa’ad bin al-Rabi bersama dua anak perempuannya. Ia lalu berkata, “Ya Rasulullah, ini dua anak Sa’ad bin al-Rabi yang mati syahid pada Perang Uhud bersamamu. Paman mereka merampas semua harta mereka tanpa member bagian sedikitpun.” Rasul saw. kemudian menjawab “mudah-mudahan Allah segera memberi penyelesaian mengenai masalah ini.” Kemudian turun ayat tentang waris dalam Surah al-Nisā’ Ayat 11. Setelah turun ayat-ayat tentang waris itu maka jelaslah orang-orang yang berhak menjadi ahli waris (Ashāb al-Furūdl) yaitu anak laki-laki, perempuan, ibu, bapak, suami, istri, saudara kandung, saudara sebapak, saudara seibu, kakek, nenek, dan cucu.

Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk melaksanakan hukum waris sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Alqur’an. Semua yang sudah diatur dalam Alqur’an bertujuan memberikan keadilan pada setiap orang. Selain itu, Rasul juga memerintahkan umat Islam untuk mempelajari dan mendalami ilmu waris ini. Dari Abū Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pelajarilah ilmu waris dan ajarkan, karena ilmu waris merupakan separuh ilmu. Ilmu waris adalah ilmu yang mudah dilupakan dan yang pertama kali dicabut dari umatku” (HR. Ibn Majah dan Daruquthni). Ilmu waris merupakan ilmu yang pertama kali diangkat dari umat Islam. Cara mengangkatnya adalah dengan mewafatkan para ulama yang ahli dalam bidang ini. Orang yang paling menguasai ilmu waris di antara umat Rasulullah saw. adalah Zaid bin Tsabit.  Muhammad Thaha Abul Ela Khalifah dalam Ahkamul Mawarits: 1.400 Mas’alah Miratsiyah menyatakan bahwa para imam mazhab menjadikan Ziad bin Tsabit sebagai rujukan dalam ilmu waris.

 

Hukum Mempelajari Ilmu Waris

Terkait hukum perihal waris ini, kita dapat merujuk kepada hadis Nabi saw. yang artinya “pelajarilah al-faraidh dan ajarkannlah ia kepada orang-orang. Sesungguhnya faraidh itu separuh ilmu, dan ia pun akan dilupakan serta ia pun merupakan ilmu yang pertama kali akan di cabut dikalangan ummat ku” (HR. Ibn Majah dan Daruquthni) Berdasarkan hadis tersebut, dapat dipahami bahwa ilmu waris merupakan ilmu yang sangat penting bahkan dikatakan separuh dari seluruh ilmu pengetahuan. Selain itu, ilmu waris adalah ilmu yang pertama kali diangkat (dihilangkan) Allah SWT. dengan cara diwafatkannya para ahli ilmu waris. Hal ini sebab ilmu waris termasuk ilmu yang jarang bahkan sangat sedikit yang mengamalkannya. Dengan demikian, mempelajari ilmu tersebut menjadi sebuah kewajiban (fardhu kifayah).

Anjuran kewajiban mempelajari dan mengamalkan ilmu waris ini dikukuhkan oleh hadis Nabi saw. yang lain yaitu; hadis riwayat Ahmad, Al-Nasā`i dan Al-Dāruqthnī yang artinya “Pelajarilah Alquran dan ajarkan kepada orang-orang dan pelajarilah faraidh dan ajarkanlah kepada orang-orang. Karena saya bakal direnggut (mati), sedangkan ilmu itu akan diangkat. Hampir-hampir dua orang yang bertengkar tentang pembagian pusaka, maka mereka berdua tidak menemukan seorang pun yang sanggup memfatwakannya kepada mereka.”  Hukum wajib mempelajari dan mengamalkan ilmu waris didasarkan pada redaksi hadis tersebut yaitu تعلموا dan علمو yang merupakan bentuk fi’il amr (perintah), sementara al-amr lil ījāb bahwa perintah menunjukkan pada hukum wajib. Adapun beberapa tujuan atau hikmahnya adalah sebagaimana ditunjukkan dalam hadis kedua yaitu menghindar atau minimal meminimalisir terjadinya perselisihan akibat harta waris.

 

Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu yang pertama kali dihapus adalah ilmu waris. Ilmu waris dihapus sebab jarang dan bahkan tidak diamalkan oleh umat Islam. Cara Allah mencabutnya dengan mewafatkan orang-orang yang ‘alim dalam bidang ilmu waris. Oleh karena itu, Nabi saw. menganjurkan umat Islam (laki-laki dan perempuan) untuk mempelajarinya. Hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif yang dibebankan kepada seluruh umat Islam. Artinya, jika dalam satu daerah tidak ada seorang pun yang mengerti ilmu waris maka seluruh masyarakat yang ada di daerah tersebut terkena dosa.

Wa Allāh a’lam bi al-shawab

Jawa Barat Optimistis Jadi Pusat Industri Keuangan Syariah

Pemerintah Provinsi Jawa Barat optimistis bisa menjadi pusat industri keuangan syariah di Indonesia. Ada dua hal yang menjadi kekuatan daerah ini untuk menjadi kekuatan di sektor keuangan syariah.

“ Jawa Barat sudah sepantasnya menjadi yang terdepan dan menjadi pusat industri keuangan syariah di Indonesia,” kata Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, usai menghadiri Tasyakur Milad ke-25 tahun dan peresmian kantor pusat PT BPR Syariah Amanah Ummah di Bogor, Jawa Barat, sebagaimana dilansir laman resmi pemerintah provinsi Jawa Barat, Selasa 8 Agustus 2017.

Deddy mengatakan ada dua kelebihan Jawa Barat di sektor keuangan ini. Pertama, jumlah penduduk Muslim di Jawa Barat sebanyak 40,9 juta orang. Ke dua, banyak perguruan tinggi yang menawarkan program studi keuangan syariah. Kehadiran program studi keuangan syariah ini bisa menekan kekurangan sumber daya manusia (SDM) di sektor keuangan syariah.

Dengan mengutip data hasil Survei Nasional Literasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan tahun 2016, Deddy mengatakan bahwa tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia naik menjadi 67,82 persen, sedangkan persentase kelompok well literate naik menjadi 29,66 persen.

 “ Alhamdulillah indeks inklusi keuangan di Jabar sudah 68,32 persen. Artinya di atas rata-rata nasional dan indeks literasi keuangan kita diangka 38,70 persen tertinggi kedua setelah DKI Jakarta,” kata dia.

Deddy mengatakan indeks inklusi keuangan syariah di Jawa Barat sudah lebih baik, yaitu mencapai 21,56 persen.

Poin penting yang harus menjadi fokus perhatian para pelaku jasa keuangan syariah, kata dia, adalah memperkuat perannya dalam kegiatan sektor riil seperti pembiayaan syariah untuk industri pariwisata serta unit-unit usaha syariah potensial lainnya seiring dengan meningkatnya tren halal lifestyle global.

“ Karena itu saya harap jasa keuangan syariah terus mengedukasi dan transaparan kepada masyarakat atau calon nasabah tentang karakteristik produk dan layanan jasa keuangan yang tersedia,” harapnya.

Selain itu, jasa keungan syariah dituntut lebih kreatif dalam mencari sumber dana murah serta menciptakan produk dan jasa keungan yang menarik, mudah diakses dan berbiaya murah. Terutama untuk kalangan pelajar dan mahasiswa, santri pondok pesantren, ibu rumah tangga, petani, pedagang dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Dengan begitu, lembaga keuangan syariah dapat menjadi penggerak sektor riil untuk membuka lebih banyak kesempatan kerja sehingga dapat mengurangi ketimpangan dan menghadirkan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“ Semoga industri jasa keungan syariah di Jabar terus tumbuh menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi inklusif, menarik investasi, menggerakkan tabungan domestik dan meningkatkan daya saing,” tutur kata dia.

Secara umun saat ini Indonesia menjadi negara dengan jumlah lembaga keuangan syariah terbesar di dunia yaitu sebanyak 5 ribu lebih. Meliputi 34 Bank Syariah, 58 operator takaful atau asuransi syariah, 7 model ventura syariah, 163 BPR Syariah, 1 pegadaian syariah, dan sekitar 4500 lebih koperasi syariah atau baitul maal wat tamwil. Bahkan Indonesia juga telah menciptakan Syariah Online Trading System pertama di dunia.

sumber

Ditulis oleh : Nurul Azmiatul Umamah

Perbankan syariah adalah suatu badan usaha yang bergerak di bidang jasa yang menerapkan fungsi intermediary yaitu penghimpunan dan penyaluran dana pihak ketiga (DPK). Perkembangan bank syariah di Indonesia cukup baik hal ini dapat dijadikan tolak ukur eksistensi dari keberhasilan ekonomi syariah. Hal ini terlihat jumlah Bank Umum Syariah ( BUS ) telah mencapai 13 unit dan Unit Usaha Syariah ( UUS ) mencapai 24 unit.

Sebagaimana yang telah di beritakan oleh media massa online pada tanggal 22 November 2016 yang menyatakan bahwa saat ini pangsa pasar bank syariah telah mencapai 5,3% setelah BPD Aceh berkonversi menjadi Bank Syariah.

Dilihat dengan bertambahnya BUS dan UUS menunjukan bahwa dibutuhkan pula sumber daya manusia yang memiliki kemampuan untuk mengisi pos – pos pekerjaan di perbankan syariah. Sama dengan perusahaan lain, sumber daya manusia memiliki peranan yang penting untuk pencapaian tujuan suatu perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan berusaha mencari dan membina karyawan agar menjadi karyawan mampu bersaing, dengan begitu karyawan tersebut dapat menjadi tulang punggung bagi keberhasilan perusahaan.

Sumber daya manusia merupakan aktivitas yang memiliki peranan ideal dalam sebuah perusahaan. Fokus utamanya adalah orang-orang atau para karyawan. Karyawan merupakan salah satu unsur yang paling dominan dan strategis dalam usaha pencapaian tujuan. Sehingga dalam suatu organisasi usaha memberdayakan dan mengembangkan sumber daya manusia dalam hal ini karyawan, perlu selalu ditingkatkan guna mencapai tujuan-tujuan dan hasil seperti yang dikehendaki.

Masalah utama yang ada dalam manajemen sumber daya manusia yang patut mendapat perhatian perusahaan adalah kinerja karyawan. Kinerja karyawan dianggap penting bagi perusahaan karena keberhasilan suatu perusahaan dipengaruhi oleh kinerja karyawan itu sendiri. Kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan peranannya dalam perusahaan. Menurut Keith Davis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivasion).

Namun, sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh perbankan syariah bukan hanya sumber daya manusia yang memiliki kapasitas otak yang cerdas saja dimana perbankan syariah adah sebuah hasil dari ekonomi syariah, yaitu ekonomi yang berlabelkan Islam. Tidak hanya cukup dengan menjadi lulusan terbaik namun ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sumber daya manusia yang bekerja di perbankan syariah diantaranya adalah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlaq yang baik, memiliki soft skill, disiplin, berpenampilan rapih, ramah dan ahli di bidang perbankan syariah.

Pada bagian utama disebutkan bahwa percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi syarat bagi sumber daya manusia di perbankan syariah. Tidak dapat di pungkiri bahwa di instansi syariah pun masih bisa terjadi kasus korupsi sebagaimana pada tahun 2014 lalu direktur suatu bank syariah terkena kasus korupsi. Melihat hal tersebut maka diperlukan suatu penilaian khusus untuk karyawan perbankan syariah diantaranya yang memiliki nilai agama yang baik. Dimana secara teori SDM yang memiliki dasar agama yang baik maka akan baik pula seluruh aktivitas yang dikerjakannya. Karena agama adalah pedoman yang akan menuntun penganutnya menuju kebaikan. Karena pada hakikatnya di dalam agama selalu di ajarkan mengenai kebaikan, tidak pernah sedikit pun agama mengajarkan pelakunya untuk melakukan hal keburukan.

Baik keyakinan, kepatuhan terhadap perintah agama, akhlak serta wawasan. Dimana jika tetap dibiarkan melakukan perekrutan SDM yang syarat utamanya bukan agama dikhawatirkan akan mengganggu bagi kemajuan perbankan syariah dan akan menjadikan bank syariah dicatat sebagai bank yang tidak terpercaya sehingga mengurangi minat nasabah untuk menggunakan bank syariah.

sumber

KNKS Siapkan Strategi Kembangkan Ekonomi Syariah

Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) dan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) bersepakat mengembangkan ekonomi syariah. Mereka ingin ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian dari perekonomian utama secara umum dalam konteks pembangunan nasional. 

Untuk mewujudkannya IAEI dan KNKS akan segera menyusun rencana aksi pengembangan ekonomi serta keuangan syariah. “Ada tiga pilar utama, pertama pemberdayaan ekonomi syariah atau singkatnya pengembangan sektor riil, selama ini kita terlalu sibuk ke perbankan syariah padahal sektor riil juga harus jalan,” kata dia, dalam konferensi pers, di Jakarta, Jumat, (28/7).
 
Berbagai sektor riil yang perlu dikembangkan, kata Bambang, di antaranya industri pariwisata halal, kosmetik halal, makanan halal, dan lainnya. Maka masyarakat Indonesia terutama Muslim perlu didorong untuk berwirausaha agar dapat mengembangkan bisnis syariah 
 
Selanjutnya, pilar kedua, yakni pengembangan dan pendalaman ekonomi syariah. “Nah di sini perlu instrumen lebih banyak. Kira-kira instrumen apa di syariah yang masih harus dikembangkan,” ujar Bambang.
 
Ia menambahkan, KNKS juga akan mengoptimalkan dana sosial keagamaan seperti wakaf, zakat, dan haji. Tujuannya supaya menyentuh masyarakat yang tepat. Pilar terakhir, yakni penguatan riset dan edukasi keuangan syariah. Hal ini terkait Sumber Daya Manusia (SDM), menurutnya, sebagus apa pun perekonomian syariah bila kualitas maupun kuantitas SDM tidak mumpuni maka masih belum memadai. 
 
“Kami juga sudah melakukan harmonisasi antara ekonomi syariah dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Hal itu karena goal SDGs sangat relevan dengan kepentingan umat,”