Berita

ISABC Dorong Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah

Presiden Indonesia Saudi Arabia Business Council (ISABC) Muhammad Hasan Gaido menegaskan Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, sudah semestinya menjadi sentral kegiatan ekonomi syariah. Karena itu pihaknya terus mendorong pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah di dunia. 

Hal  itu diungkapkan Hasan Gaido saat pertemuan Silaturahim dan Rapat Pleno Pengurus ISABC di Hotel d’Arcici Jakarta, Senin (17/7). “Jangan sampai negeri ini hanya dijadikan sebagai pasar dari kegiatan ekonomi syariah dunia. Kita harus rebut pangsa pasar syariah dengan terus mendorong pemerintah dan swasta untuk mewujudkan sebagai sentral ekonomi syariah di berbagai sektor,” kata Hasan Gaido dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (18/7).

Menurutnya, Indonesia yang berpenduduk 270 juta jiwa, di mana 87 persen adalah Muslim, merupakan market yang besar. Karena itu pihaknya tengah merancang langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan dalam mewujudkan hal tersebut. Di antaranya adalah melakukan koresponden dan menggandeng pihak-pihak terkait seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dan yang lainnya. 

“Kita akan sosialisasikan terus bahwa Indonesia sangat berpotensi menjadi sentral ekonomi syariah. Mulai dari kegiatan usaha perhotelan berkonsep syariah, restoran halal, perbankan syariah termasuk kegiatan ekspor dan impor yang dilandasi prinsip-prinsip syariah,” ujar Ketua Bilateral Kadin Komite Tetap Timur Tengah itu.

Menyikapi hal itu, Ketua Bidang Pariwisata ISABC, Ahmad Mustofa mengatakan secara riil, untuk aktivitas dan transaksi dunia pariwisata domestik saja, Indonesia adalah pangsa pasar yang besar dibandingkan dengan negara-negara lain. “Betapa tidak, perputaran uang dari dunia pariwisata dalam negeri dengan penduduk yang besar dan wilayah yang luas dari Sabang hingga Merauke, Indonesia nilainya lebih besar jika dibandingkan dengan negara lain,” ujar Ahmad Mustofa. 

Ia menyebutkan contoh, ketika musim lebaran tiba, penerbangan, transportasi darat dan laut begitu padat. Begitu pula,  sepanjang bulan puasa Ramadhan yang baru lalu, misalnya, nilai transaksi belanja kaum Muslim luar  biasa.

“Itu baru dalam satu momen saja. Belum lagi pergerakan masyarakat dari satu destinasi wisata ke destinasi lainnya yang ada di negeri ini. Jika kondisi ini bisa kita manfaatkan dengan baik, maka dengan sendirinya Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi syariah di negeri sendiri maupun dunia,” kata Direktur Operasional PT Jakarta Tourisindo selaku pengelola dari Grand Cempaka Hotel dan d’Arcici Hotel itu. 

Karena itu, kata Ahmad, menjelang penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2017 yang akan digelar pada 11-15 Oktober mendatang,  pihaknya akan mengadakan serangkaian acara untuk menyukseskan hajatan pemerintah melalui kegiatan tersebut. “Terutama terkait dalam hal investasi syariah, halal tourism, halal trade dan lain sebagainya yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi syariah. Tentu ini juga upaya kita dalam mewujudkan Indonesia sebagai sentral ekonomi syariah dunia,” katanya.

sumber

Ekonomi Syariah Solusi Atasi Kesenjangan Sosial

Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo mengatakan, ekonomi syariah merupakan salah satu cara mengatasi permasalahan ekonomi yang masih terdapat di Indonesia, seperti kesenjangan sosial. Pasalnya sistem ekonomi syariah merupakan sistem ekonomi yang menjunjung tinggi keadilan, kebersamaan, dan keseimbangan dalam pengelolaan sumber daya.

Hal tersebut dikatakannya saat diskusi panel bertajuk “Peran Ekonomi Syariah dalam Arus Baru Ekonomi Indonesia” di Jakarta, Senin (24/7). Ekonomi syariah, kata Agus, dilengkapi dengan mekanisme distribusi harta kepada masyarakat miskin serta dorongan partisipasi masyarakat untuk berkontribusi bagi kepentingan publik, sehingga bersifat inklusif. “Ekonomi syariah dinilai merupakan salah satu cara mengatasi permasalahan ekonomi yang masih terdapat di Indonesia, seperti kesenjangan sosial. Oleh karena itu BI terus mendorong peran ekonomi syariah dalam mendukung pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional,” kata Agus.

Dikatakannya, pengembangan program ekonomi dan keuangan syariah secara nasional diharapkan akan memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan sektor produksi yang semakin kuat dan merata. Selain itu bisa meningkatkan daya tahan ekonomi (resilience) terhadap gangguan baik internal maupun eksternal, meningkatkan stabilitas dan efisiensi sektor keuangan syariah, membuka peluang pelaksanaan program literasi ekonomi syariah.

 

Menurut Agus, ada tiga pilar yang keuangan syriah yakni pertama, pilar pemberdayaan ekonomi syariah. Pilar ini menitikberatkan pada pengembangan sektoral usaha syariah, melalui penguatan seluruh kelompok pelaku usaha baik besar, menengah, kecil, mikro, serta kalangan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren.

“Cakupan pilar ini tidak terbatas pada keuangan komersial, namun juga pada sektor ZISWAF (zakat, infak dan wakaf) dan upaya integrasi keduanya. Pilar ketiga, yakni pilar penguatan riset, asesmen dan edukasi termasuk sosialisasi dan komunikasi,” katanya.

Secara global, tambahnya, kinerja ekonomi dan keuangan syariah dunia memperlihatkan pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2015, volume industri halal global mencapai Rp 3,84 triliun dolar AS dan diperkirakan akan meningkat mencapai Rp 6,38 triliun dolar AS pada tahun 2021.

Sementara itu, meskipun pertumbuhan sektor keuangan syariah di Indonesia cukup tinggi, posisi Indonesia pada Global Islamic Economic Indicator 2017 masih berada pada urutan ke-10 dengan posisi tertinggi dicapai oleh Uni Arab Emirates dan diikuti oleh Malaysia pada peringkat kedua.

sumber

Prodi Perbankan Syariah dan Ekonomi Syariah Terakreditasi dengan Pringkat B

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) merupakan satu-satunya badan akreditasi yang memperoleh wewenang dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, memperkenalkan serta menyebarluaskan “Paradigma Baru dalam Pengelolaan Pendidikan Tinggi”, dan meningkatkan relevansi, atmosfer akademik, pengelolaan institusi, efisiensi dan keberlanjutan pendidikan tinggi.[1]

Kerja keras yang dilakukan oleh Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Islamic Village telah berujung manis, karena telah mendapatkan predikat akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan predikat B. Perolehan predikat tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)

  1.  Prodi Perbankan Syariah Nomor 3172/SK/BAN-PT/Akred/S/IX/2017. Perolehan predikat B.
  2.  Prodi Ekonomi Syariah Nomor 1634/SK/BAN-PT/Akred/S/V/2017. Perolehan predikat B.

Hal ini patut disyukuri karena dapat mengembangkan program studi Perbankan Syariah dan Ekonomi Syariah di Provinsi Banten. Mudah-mudahan dapat dijadikan motivasi dalam meningkatkan kualitas Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Islamic Village, menjadi lebih berkualitas sehingga menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas, ber orientasi Islam, berdisiplin tinggi dan berakhlaq mulia. Sesuai dengan trilogi Yayasan Islamic Village.

 

Pakistan Rilis Aturan `Hijrah` Jadi Bank Syariah

Pakistan tak mau setengah-setengah dalam mengembangkan keuangan syariah di negaranya. Baru-baru ini, Bank Sentral Pakistan merilis panduan bank yang ingin berubah menjadi bank syariah sepenuhnya (full fledged).

Dilansir dari Salaam Gateway, Senin 10 Juli 2017, regulasi ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan perbankan syariah di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Perbankan syariah memang tumbuh double digit, namun tertinggal dari perbankan konvensional dalam segi ukuran maupun keuntungan.

Sekadar informasi, perbankan syariah ini mengikuti aturan-aturan syariah yang melarang riba dan spekulasi  moneter. Perbankan ini juga mengesampingkan penggunaan instrumen keuangan berbasis bunga seperti obligasi dan treasury.

Bank Sentral Pakistan mewajibkan bank yang ingin mengoperasikan bank syariah full fledged, harus memiliki operasi keuangan syariah dan proses konversi harus dimulai selama enam bulan setelah persetujuan. Setelah konversi usai, pemohon bisa mengajukan lisensi bank syariah full fledged.

Konversi semacam ini memang jarang terjadi di keuangan syariah. Akan tetapi, cara ini dipandang sebagai cara untuk meningkatkan skala perbankan syariah dan memperluas jangkauannya ke daerah pedesaan yang kurang terlayani.

Sekadar informasi, Pakistan merupakan negara yang penduduk Muslimnya terbanyak kedua di dunia setelah Indonesia. Saat ini, ada 5 bank syariah full fledged dan 16 bank konvensional yang menawarkan produk keuangan syariah di Pakistan. Per Maret 2017, aset perbankan syariah sebesar US$17,9 miliar (Rp239,79 triliun) dan meningkat 16 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Aset bank syariah ini sebesar 11,7 persen dari total aset perbankan.

Akan tetapi, rasio kapitalisasi dan profitabilitas mereka berada di bawah rata-rata industri perbankan di Pakistan.

sumber

OJK Dorong Bank Syariah Kebut Infrastruktur IT

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan syariah untuk segera meningkatkan infrastruktur IT sebagai enabler atau faktor pembantu untuk mendorong pertumbuhan. Perkembangan layanan digital di perbankan syariah saat ini dinilai sangat tertinggal dibandingkan bank konvensional.

Deputi Direktur Pengawasan 2 Perbankan Syariah OJK Titi Wigati mengatakan, meskipun OJK telah menyiapkan strategi pengembangan perbankan syariah, namun tetap ada faktor enabler yang harus disiapkan pelaku industri yaitu infrastruktur IT. 

Faktanya saat ini layanan digital sudah sangat dibutuhkan oleh nasabah perbankan. Sementara perkembangan layanan IT perbankan konvensional jauh meninggalkan bank syariah. 

“Seharusnya sejak 2015 level teknologi bank itu 4.0 atau Internet of everything sejak 2015. Sementara perbankan syariah masih di level electronic banking atau 2.0 yang sangat ketinggalan. Sehingga infrastruktur IT perbankan syariah menjadi faktor krusial saat ini,” ujar Titi.

Industri keuangan syariah menurutnya harus siap menghadapi era digitalisasi, karena penggunaan teknologi finansial atau Fintech sangat diperlukan. Bank syariah bisa memanfaatkan infrastruktur bank induk untuk pengembangan layanan berbasis teknologi tersebut.

Sementara Pengawas Spesialis Teknologi Informasi Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bayu Hendra Sasana menambahkan, saat ini perbankan syariah masih termasuk tahap awal penggunaan teknologi dalam layanan keuangannya.

“Perbankan syariah boleh menggunakan infrastruktur di bank induk, apalagi infrastrukturnya memadai. Ini sedikit banyak berpengaruh ke keuangan syariah, punya peranan bagus untuk mengembangkan,” kata Bayu dalam kesempatan sama.

Menurutnya, dengan digitalisasi dan penggunaan Fintech, nantinya akses perbankan syariah dapat menjangkau wilayah yang lebih luas atau lebih inklusif. Dengan demikian, OJK terus mendorong inovasi produk digital bagi keuangan syariah.

Saat ini terdapat 4 kategori level, dan perbankan syariah sendiri baru masuk dalam fase kategori 2. Lebih lanjut dia mengungkapkan, bahwa perbankan syariah yang masuk dalam kategori 2 tersebut sudah dapat melayani elektronic banking. 

Meski begitu, hingga saat ini berdasarkan data OJK, belum ada satupun perbankan syariah yang masuk ke dalam kategori 3. “Kalau sudah naik ke tiga, perbankan syariah bisa melakukan one stop shopping atau produknya tidak terbatas,” ujarnya

Ketika perbankan syariah sudah one stop shopping, maka dapat memanfaatkan pertumbuhan e-commerce‎, di mana berdasarkan data Bank Indonesia nilai transaksi e-commerce pada 2014 mencapai sekitar Rp34,9 triliun. Angka ini akan terus meningkat sejalan dengan masifnya penggunaan smartphone.

‎Sementara untuk perbankan dalam fase terakhir yakni kategori empat, atau generasi intenet of everything, produk yang dimiliki perbankan sudah sangat lengkap dan layanannya juga sudah terakses internet dengan baik. Dengan begitu, perbankan juga bisa menopang pertumbuhan e-commerce.

Pada kesempatan yang sama Pengamat IT Heru Sutadi mengatakan, penggunaan teknologi harus dapat memenuhi aspek inklusi keuangan di Indonesia. Khususnya syariah yang memiliki potensi besar.

Namun, ia menilai saat ini lembaga keuangan syariah masih kekurangan inovasi dalam mengembangkan produk produknya yang berbasis teknologi. “Padahal kalau kita bersiap sekian tahun lalu mungkin saat ini jadi waktu yang pas untuk menikmati hasilnya,” ujar Heru Sutadi.

Menurut Heru, dengan adanya industri fintech, perkembangan digitalisasi keuangan menjadi satu momok yang dikhawatirkan memakan industri keuangan konvensional, apalagi syariah yang masih kecil. Namun menurutnya yang menjadi tantangan penting saat ini lebih banyak lembaga keuangan syariah yang berfokus di Pulau Jawa. 

Meskipun Indonesia Timur mayoritas merupakan nonmuslim, tetapi ia meyakini industri syariah dapat lebih berkembang dengan bantuan teknologi. Sementara itu, Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Taufik Marjumadi mengatakan, saat ini pihaknya masih terus berkoordinasi dengan OJK dan lembaga keuangan syariah lainnya untuk penggunaan Fintech dalam produk dan layanan. 

Sejauh ini di asuransi, baru beberapa produk dan layanan yang menggunakan teknologi seperti e-services dan e-claims yang dapat menggunakan akses internet dan mobile. Apalagi dengan penetrasi asuransi syariah yang baru 0,99 %, peluang pangsa pasar masih sangat besar.

Industri perbankan syariah terus didorong untuk bisa sejajar dengan perbankan konvensional. Hal ini mengingat besarnya jumlah penduduk muslim di Indonesia yang menjadi potensi pasar tersendiri bagi perbankan syariah nasional. 

Namun demikian, meski potensi pasar perbankan syariah sangat besar di Indonesia, tetapi kondisi ini tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh perbankan syariah. Saat ini, pangsa pasar perbankan syariah masih sekitar 5,1 % dari total industri perbankan. 

OJK mencatat hingga Maret, pangsa pasar keuangan syariah secara keseluruhan berkisar 5%. Namun, apabila dilihat dari setiap jenis produk syariah, hingga triwulan I 2017, terdapat beberapa produk syariah yang market share-nya di atas 5%, antara lain aset perbankan syariah sebesar 5,29% dari seluruh aset perbankan.

Sukuk negara yang mencapai 16,45% dari total surat berharga negara yang beredar, lembaga pembiayaan syariah sebesar 7,27% dari total pembiayaan, lembaga jasa keuangan khusus sebesar 10,11%, dan lembaga keuangan mikro syariah sebesar 23,72%.

Sementara itu, produk syariah yang pangsa pasarnya masih di bawah 5%, antara lain sukuk korporasi yang beredar sebesar 3,77% dari seluruh nilai sukuk dan obligasi korporasi, nilai aktiva bersih reksa dana syariah sebesar 4,75% dari total nilai aktiva bersih reksa dana, dan asuransi syariah sebesar 3,47%.

Selain produk keuangan di atas, saham emiten dan perusahaan publik yang memenuhi kriteria sebagai saham syariah mencapai 54,89% dari kapitalisasi pasar saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

(sumber)

 

FESTIVAL WISATA HALAL BANTEN 2017

Banten merupakan salah satu Provinsi yang ditawarkan untuk menjadi Destinasi Wisata Halal di Indonesia. Hal ini berdasarkan kesiapan sumber daya manusia, kultur masyarakat setempat, produk-produk wisata daerah, akomodasi wisata, kawasan wisata sejarah, wisata ziarah, dan kawasan wisata pesisir. Konsep Wisata halal merupakan konsep baru dalam Pariwisata. Walaupun demikian, konsep ini mampu memberikan dampak positif untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan muslim lokal dan mancanegera serta dapat meningkatkan Pendapatan Daerah Provinsi Banten termasuk Pemerintah Daerah yang berada dalam Provinsi Banten, seperti Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Serang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak.

Festival Wisata Halal Banten 2017 yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh STES Islamic Village bertujuan untuk dapat ikut andil dalam mendukung, mendorong dan mempromosikan Provinsi Banten menjadi salah satu Destinasi Wisata Halal di Indonesia bahkan menjadi salah satu Destinasi Wisata Halal Dunia. Selain itu, acara Festival Wisata Halal Banten 2017 juga akan mendorong Pemerintah Provinsi Banten untuk memberikan perhatian khusus terhadap berbagai kawasan wisata religi, wisata strategis, hotel halal, kuliner halal bahkan fashion halal serta ekonomi kreatif berbasis kerakyatan yang frendly terhadap wisatawan Muslim.

Festival Wisata Halal Banten 2017 akan disemarakkan berbagai macam kegiatan, seperti Talk Show Wisata Halal, Bazzar Kuliner Halal, Lomba Desain Hotel dan Kawasan Wisata Halal, Lomba Menulis Konsep Wisata Halal, Sertifikasi Halal UMKM, Halal Cooking Competition, Marawis Competiton dan Lomba Duta Wisata Halal. Oleh karenanya, Festival Wisata Halal Banten 2017 diselenggarakan oleh STES Islamic Village bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota, Pakar Wisata Halal, seperti MUI Pusat (Majelis Ulama Indonesia), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Banten, Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia Banten (JPMI-Banten).

 

Waktu, Tempat dan Bentuk Kegiatan

Festival Wisata Halal akan dilaksanakan pada:

Hari                 :  Jumat, Sabtu dan Minggu

Tanggal            :  12 – 14 Mei 2017

Tempat : Islamic Village Education Area, Islamic Raya, Kelapa Dua  Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Telp. 021-5464165, Email: festivalwisatahalalbanten@gmail.com

Acara ini akan terbagi dalam beberapa kegiatan, yaitu Talk Show, Bazzar atau Pameran, dan Perlombaan. Selain sesi Seminar, Festival ini juga menyediakan ruang pameran bisnis bagi para peserta individu maupun perusahaan serta pengunjung untuk menjadi inspirator atau mencari mitra bisnis dan sebagainya. Bentuk kegiatan berupa:

Konser Bersama Opick

Talk Show

Menampilkan Public Speaker sebagai pembicara yang berkompeten dalam bidang Wisata Halal;

  1. Menteri Pariwisata
  2. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat
  3. Gubernur Provinsi Banten
  4. Walikota dan Bupati se- Banten
  5. Tazbir, SH, M.Hum (asisten Deputi Menteri Pariwisata, Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kementerian Pariwisata RI)
  6. Adiwarman Azwar Karim, MBA, MAEP (Akademisi dan Praktisi Ekonomi Syariah)
  7. Riyanto Sofyan, B.Sc, MBA (Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal, Kementerian Pariwisata RI)
  8. Ida Irawati (Tim Pokja Destinasi Pariwisata Prioritas KEK Tanjung Lesung)
  9. Hj. Eneng Nurcahyati (Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten)

 

Pameran Multi Produk, Bazzar Kuliner dan Perlombaan

Adapun Pameran dan beberapa perlombaan yang diadakan adalah

  1. Pameran Multi-Produk dan Kuliner Halal (52 Stand Multi-Produk dan 102 Stand Kuliner Halalan Toyyiban)
  2. Halal Cooking Competiton
  3. Duta Wisata Halal Banten 2017
  4. Lomba Menulis Wisata Halal Banten 2017
  5. Lomba Menggambar Design Wisata Halal Banten 2017
  6. Marawis & Qosidah Competition (Halal Art)
  7. Hiburan dan Konser
  8. Festival ini akan dihadiri oleh Artis Nasional

 

Audience dan Peserta

Kegiatan Festival Wisata Halal Banten 2017 ini diharapkan dapat dihadiri oleh beberapa tamu undangan, di antaranya adalah;

EXHIBITOR VISITOR
Kementerian Pariwisata

Pemerintah Provinsi Banten

Pemerintah Kota dan Kabupaten

Perbankan dan Mitra

BUMN

UMKM Binaan BUMN

Mitra Binaan Dinas Pemerintah

Maskapai Penerbangan (Airline)

Biro Perjalanan Haji dan Umrah

Pengusaha Hotel dan Travel

Penyelenggara Kawasan Wisata

Makanan dan Minuman

Telekomunikasi

Pelaku Bisnis dan Investor

BUMN

Dinas Pemerintah Pusat

Dinas Pemerintah Provinsi

Dinas Pemerintah Kota dan Kab.

Pengusaha/Profesional

Masyarakat Umum

Mahasiswa/Pelajar

Komunitas/Asosiasi

Organisasi

Wisatawan Lokal

Wisatawan Mancanegara

 

                                                                                                                                                           

Festival Wisata Halal Banten 2017 ini akan dihadiri sekitar 500 peserta Talk Show sekaligus fasilitator untuk pengurusan Sertifikasi Halal oleh MUI kepada para pengusaha Perbankan, kuliner, hotel, dan travel. Festival Wisata Halal juga akan membuka 52 Stand Multi-Produk dan 102 Stand Kuliner Halalan Toyyiban dengan pengunjung sekitar 10.000 orang dan pengunjung akan langsung masuk stand untuk dapat mengetahui tentang Festival Wisata Halal Banten 2017.

Proses Akreditasi Program Studi Ekonomi Syariah STES Islamic Village

Jum’at 24 Februari 2017 STES Islamic Village kedatangan asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk melakukan visitasi akreditasi program studi ekonomi syariah yang diwakili oleh Prof. H. Muslimin (UIN Alauddin) dan Firmansyah Ph.D (Univ. Diponegoro Semarang). Kegiatan visitasi tersebut berlangsung selama 1 hari dimulai sejak pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB dan berjalan dengan lancar tanpa halangan. 

Hasil dari kegiatan visitasi tersebut akan diumumkan dikemudian hari oleh BAN-PT pusat, harapan dari civitas akademika STES Islamic Village adalah mendapatkan hasil yang memuaskan dan program studi ekonomi syariah STES Islamic Village dapat bermanfaat bagi masyarakat. Aamiin.

 

 

Penerimaan Mahasiswa Baru

STES Islamic Village membuka penerimaan mahasiswa baru utk TA.2017/2018 dgn Prodi S1 Ekonomi Syariah dan S1 Perbankan Syariah yg sdh terakreditasi oleh BAN PT yg membuka kelas pagi dan malam.
Keunggulan:

  1. Pembelajaran telah menggunakan kurikulum KKNI yg membentuk lulusan utk siap kerja dan siap usaha
  2. Tempat praktek usaha dan perbankan milik sendiri, namun tetap melaksanakan magang di eksternal di BMT, KOPSYAH, BPRS dan BUS serta lembaga keuangan syariah lainnya.
  3. Program pertukaran mahasiswa dengan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dan Universiti Utara Malaysia (UUM).
  4. Membekali mahasiswa dgn Program Toefl dan Toafl.
  5. Program Baca Al-Qur’an (Tahsin) dan Menghafal Al’Qur’an (Tahfidzh).

Fasilitas:

  1. Ruang kuliah, perpustakaan asri dan nyaman (ber-AC) serta dilengkapi Wify terjaga dan berkapasitas cukup besar.
  2. Sarana olahraga dan seni
  3. Tempat parkir cukup luas dan kantin cukup murah.
  4. Dan masih banyak yg lain.

Lain-Lain:Informasi lebih lanjut dapat menghubungi telp. (021) 5464165, email; stes.isvil@yahoo.com

Seberapa Besar Potensi Perbankan Syariah di Indonesia?

Di Indonesia, perbankan syariah tumbuh positif.

Kinerja perbankan syariah tumbuh setiap periode. Tidak hanya itu, performa perbankan ini pun juga positif dalam mengelola keuangan nasabah.

Berbicara perbankan syariah, bagaimana sebenarnya potensi sektor perbankan ini di Indonesia? Jawabnya, cukup besar.

Wholesale Banking Director Bank Syariah Mandiri, Kusman Yandi, mengatakan ada tiga potensi yang bisa mendongkrak pertumbuhan perbankan syariah.

Pertama, jumlah penduduk Muslim di Indonesia paling banyak di dunia. “ Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, yang mewakili 10,7 persen populasi Muslim di dunia,” kata Yandi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Kamis 26 Januari 2017.

Ke dua adalah Indonesia berada pada posisi yang cukup kondusif dalam industri keuangan syariah. “ Indonesia saat ini berada di urutan ke tujuh sebagai negara yang kondusif untuk industri keuangan syariah,” kata dia.

Yandi mengatakan, potensi ke tiga adalah dukungan dari pemerintah. Salah satunya adalah dana haji harus dibayar lewat bank syariah—ini juga turut menjadi pemicu perbankan syariah.

Meskipun ada beberapa potensi yang bisa mengerek kinerja perbankan syariah, Yandi mengatakan ada tantangan yang harus dihadapi oleh perbankan syariah, yaitu kerja sama yang sinergi dari setiap pemangku kepentingan. Selain itu, perbankan syariah juga terhambat masalah modal.

“ Tantangan utama perbankan syariah, yakni modal dan skala industri, cost of fund yang tinggi, serta kuantitas dan kualitas layanan SDM yang belum memadai,” kata dia.

Sumber