Ilmu Waris : Ilmu yang Pertama Kali dicabut

Oleh : Maskur Rosyid, MA.Hk

Ilmu Waris atau Farā’idl adalah ragam ilmu pengetahuan Islam yang membahas tentang seluk-beluk pembagian harta warisan (tirkah). Waris atau (الارث) atau (الميراث) secara bahasa dimaknai sebagai tetap dan berpindah. Sementara secara istilah dimaknai sebagai berpindahnya harta seseorang (yang mati; pewaris) kepada orang lain (ahli waris) sebab adanya hubungan kekerabatan atau karena hubungan perkawinan (مصاهرة) dengan syarat dan ketentuan yang berlaku dalam syariat Islam.

Sedangkan harta peninggalan atau harta warisan dikenal dengan tirkah (التركة) yaitu (a) segala yang dimiliki seseorang sebelum dia meninggal, baik berupa benda maupun hutang, hak atas harta, hak khiyar dalam jual beli, hak menerima ganti rugi, dan qishash atau diyat. (b) segala hal yang menjadi miliknya karena kematiannya, dan (c) segala harta yang dimilikinya setelah dia meninggal.

Para ulama madzhab sepakat bahwa tirkah tersebut beralih kepemilikannya kepada ahli waris sejak kematian pewaris, dengan syarat tidak ada hutang dan atau wasiat. Selain itu, mereka juga sepakat tentang beralihnya kepemilikan atas kelebihan hutang dan wasiat kepada ahli waris, namun berpeda pendapat dalam masalah hutang dan wasiat yang jumlahnya sama dengan tirkah. 1) Hanafiyah berpendapat bahwa bagian yang nilainya sama dengan jumlah hutang tidak dimasukkan ke dalam milik ahli waris. 2) madzhab al-Syāfi’iyyah dan mayoritas Hanābilah mengatakan bahwa pemilikan ahli waris masih ada dalam tirkah.

Kewarisan dalam Islam diatur dalam beberapa dalil sebagai berikut. Surah al-Nisā’ (4): 11-12, Surah al-Nisā’ (4): 176, Hadis Nabis Riwayat A’raj yang artinya; “Dari A’raj radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku”. (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim), Hadis Nabi saw. riwayat al-Hākim yang artinya; “Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang-orang. Dan pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkan kepada orang-orang. Karena Aku hanya manusia yang akan meninggal. Dan ilmu waris akan dicabut lalu fitnah menyebar, sampai-sampai ada dua orang yang berseteru dalam masalah warisan namun tidak menemukan orang yang bisa menjawabnya”. (HR. Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim), dan Atsar Sahabat (Umar Bin Khattab) yang artinya “Dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu beliau berkata, “Pelajarilah ilmu faraidh sebagaimana kalian mempelajari Al-Quran”. (HR. Ad-Daruquthunī dan Al-Hakim)

 

Sejarah

Sistem pembagian waris sudah dikenal bahkan jauh sebelum Islam datang. Zaman Jahiliyah misalnya, bangsa Arab sudah menerapkan pembagian waris yang merugikan kaum wanita. Saat itu, yang berhak mendapatkan hak waris dari orang yang meninggal dunia hanyalah kaum Adam. Namun, tidak semua laki-laki bisa memperoleh harta warisan. “yang boleh mewaris hanyalah laki-laki dewasa yang telah mahir naik kuda dan memanggul senjata ke medan perang serta memboyong harta ghanimah (rampasan perang)” ungkap Dr Moch Dja’far dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. Menurut Dja’far, asalkan memenuhi syarat mampu berperang, seorang lelaki dewasa tidak peduli masuk kategori nasab, anak angkat, dan bahkan lahir di luar nikahpun dapat mewarisi.

Faktor-faktor  yang memungkinkan seseorang bisa menjadi ahli waris pada tradisi Arab Jahiliyah antara lain; pertama, nasab atau kerabat (bersyarat), kedua, anak angkat (bersyarat) dan ketiga, sumpah setia antara dua orang yang bukan kerabat dengan kata-kata.  Dengan demikian, meskipun anak kandung jika tidak bisa menunggang kuda atau berperang, dia tidak akan mendapatkan warisan. Sementara orang lain, jika terjadi sumpah maka orang lain tersebut berhak mendapatkannya. Bahkan perempuan tidak saja tidak mendapatkan warisan, ia menjadi benda yang diwariskan.

System tersebut kemudian diubah oleh Nabi Muhammad saw. dan sekaligus merombak sistem kepemilikan atas harta benda, khususnya harta pusaka. Menurut Ensiklopedi Islam, struktur masyarakat Arab pra-Islam amat dipengaruhi oleh kelompok-kelompok kesukuan, sehingga harta pusaka menjadi milik sukunya. Rasulullah saw. memperkenalkan sistem hukum pembagian waris yang sangat adil. Setiap pribadi, baik laki-laki maupun perempuan berhak memiliki harta benda. Selain itu, kaum perempuan juga berhak mewariskan dan mewarisi seperti halnya kaum Adam.

 

Waris di Era Awal Islam 

Sebelum turun Ayat Alqur’an tentang waris, di awal perkembangan Islam masih berlaku landasan pengangkatan anak dan sumpah setia untuk dapat mewarisi. “Lalu berlaku alasan ikut hijrah serta alasan dipersaudarakannya sahabat Muhajirin dan Ansar” papar Dja’far. Yang dimaksud dengan alasan ikut hijrah adalah jika seorang sahabat Muhajirin wafat maka yang mewarisinya adalah keluarga yang ikut hijrah. Sedangkan, kerabat yang tidak ikut hijrah tidak mewaris. Jika tidak ada satupun kerabatnya yang ikut hijrah maka sahabat Ansar lah yang akan mewarisinya.  Hal inilah maksud perbuatan Nabi saw. mempersaudarakan  sahabat Ansar dan Muhajirin. Di awal perkembangan Islam, Rasulullah saw. juga mulai memberlakukan hak waris-mewarisi  antara pasangan suami-istri.

Nabi Muhammad SAW kemudian memberlakukan kewarisan Islam dalam sistem nasab-kerabat yang berlandaskan kelahiran. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam Alqur’an Surah al-Anfāl Ayat 75. Dengan berlakunya sistem nasab-kerabat maka hak mewarisi yang didasarkan atas sumpah setia dihapuskan. Warisan atas alasan pengangkatan anak juga telah  dihapuskan sejak awal kedatangan Islam. Hal itu mulai diberlakukan sejak turunnya firman Allah SWT. yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menghapus akibat hukum yang timbul dari pengangkatan Zaid bin Haris sebagai anak angkatnya. (QS. 33: 5, 37, dan 40).

Pada zaman sebelum ayat waris turun, Rasulullah saw. kedatangan isteri Sa’ad bin al-Rabi bersama dua anak perempuannya. Ia lalu berkata, “Ya Rasulullah, ini dua anak Sa’ad bin al-Rabi yang mati syahid pada Perang Uhud bersamamu. Paman mereka merampas semua harta mereka tanpa member bagian sedikitpun.” Rasul saw. kemudian menjawab “mudah-mudahan Allah segera memberi penyelesaian mengenai masalah ini.” Kemudian turun ayat tentang waris dalam Surah al-Nisā’ Ayat 11. Setelah turun ayat-ayat tentang waris itu maka jelaslah orang-orang yang berhak menjadi ahli waris (Ashāb al-Furūdl) yaitu anak laki-laki, perempuan, ibu, bapak, suami, istri, saudara kandung, saudara sebapak, saudara seibu, kakek, nenek, dan cucu.

Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk melaksanakan hukum waris sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Alqur’an. Semua yang sudah diatur dalam Alqur’an bertujuan memberikan keadilan pada setiap orang. Selain itu, Rasul juga memerintahkan umat Islam untuk mempelajari dan mendalami ilmu waris ini. Dari Abū Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pelajarilah ilmu waris dan ajarkan, karena ilmu waris merupakan separuh ilmu. Ilmu waris adalah ilmu yang mudah dilupakan dan yang pertama kali dicabut dari umatku” (HR. Ibn Majah dan Daruquthni). Ilmu waris merupakan ilmu yang pertama kali diangkat dari umat Islam. Cara mengangkatnya adalah dengan mewafatkan para ulama yang ahli dalam bidang ini. Orang yang paling menguasai ilmu waris di antara umat Rasulullah saw. adalah Zaid bin Tsabit.  Muhammad Thaha Abul Ela Khalifah dalam Ahkamul Mawarits: 1.400 Mas’alah Miratsiyah menyatakan bahwa para imam mazhab menjadikan Ziad bin Tsabit sebagai rujukan dalam ilmu waris.

 

Hukum Mempelajari Ilmu Waris

Terkait hukum perihal waris ini, kita dapat merujuk kepada hadis Nabi saw. yang artinya “pelajarilah al-faraidh dan ajarkannlah ia kepada orang-orang. Sesungguhnya faraidh itu separuh ilmu, dan ia pun akan dilupakan serta ia pun merupakan ilmu yang pertama kali akan di cabut dikalangan ummat ku” (HR. Ibn Majah dan Daruquthni) Berdasarkan hadis tersebut, dapat dipahami bahwa ilmu waris merupakan ilmu yang sangat penting bahkan dikatakan separuh dari seluruh ilmu pengetahuan. Selain itu, ilmu waris adalah ilmu yang pertama kali diangkat (dihilangkan) Allah SWT. dengan cara diwafatkannya para ahli ilmu waris. Hal ini sebab ilmu waris termasuk ilmu yang jarang bahkan sangat sedikit yang mengamalkannya. Dengan demikian, mempelajari ilmu tersebut menjadi sebuah kewajiban (fardhu kifayah).

Anjuran kewajiban mempelajari dan mengamalkan ilmu waris ini dikukuhkan oleh hadis Nabi saw. yang lain yaitu; hadis riwayat Ahmad, Al-Nasā`i dan Al-Dāruqthnī yang artinya “Pelajarilah Alquran dan ajarkan kepada orang-orang dan pelajarilah faraidh dan ajarkanlah kepada orang-orang. Karena saya bakal direnggut (mati), sedangkan ilmu itu akan diangkat. Hampir-hampir dua orang yang bertengkar tentang pembagian pusaka, maka mereka berdua tidak menemukan seorang pun yang sanggup memfatwakannya kepada mereka.”  Hukum wajib mempelajari dan mengamalkan ilmu waris didasarkan pada redaksi hadis tersebut yaitu تعلموا dan علمو yang merupakan bentuk fi’il amr (perintah), sementara al-amr lil ījāb bahwa perintah menunjukkan pada hukum wajib. Adapun beberapa tujuan atau hikmahnya adalah sebagaimana ditunjukkan dalam hadis kedua yaitu menghindar atau minimal meminimalisir terjadinya perselisihan akibat harta waris.

 

Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu yang pertama kali dihapus adalah ilmu waris. Ilmu waris dihapus sebab jarang dan bahkan tidak diamalkan oleh umat Islam. Cara Allah mencabutnya dengan mewafatkan orang-orang yang ‘alim dalam bidang ilmu waris. Oleh karena itu, Nabi saw. menganjurkan umat Islam (laki-laki dan perempuan) untuk mempelajarinya. Hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah, yaitu kewajiban kolektif yang dibebankan kepada seluruh umat Islam. Artinya, jika dalam satu daerah tidak ada seorang pun yang mengerti ilmu waris maka seluruh masyarakat yang ada di daerah tersebut terkena dosa.

Wa Allāh a’lam bi al-shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *