International Seminar & Workshop: Sharia Governance on Islamic Financial Institution

Tangerang, 24 April 2019—Pertumbuhan sektor keuangan dan perbankan syariah di kawasan Asia Tenggara terjadi sangat pesat, data statistik menunjukkan bahwa Asia Tenggara telah menjadi salah satu pusat pengembangan industri keuangan Islam secara global. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, dua negara besar di Asia Tenggara, yaitu Indonesia dan Malaysia, menjadi penggerak dalam pengembangan industri keuangan dan perbankan syariah di antara negara-negara ASEAN, sehingga kondisi ini dapat mendorong negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara untuk berpartisipasi dalam pengembangan industri keuangan dan perbankan syariah.

 

Untuk meningkatkan pemahaman para akademisi, praktisi, maupun masyarakat umum mengenai industri Keuangan dan Perbankan Syariah di Indonesia dan Malaysia, Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah (STES) Islamic Village bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) mengadakan Seminar Internasional dengan tema “Sharia Governance on Islamic Financial Institution”. Acara seminar internasional ini dilaksanakan pada tanggal 24 April 2019, dan bertempat di Ballroom Hotel Olive, Karawaci, Tangerang.

 

Pada seminar internasional kali ini, STES Islamic Village mendatangkan narasumber yang merupakan para praktisi dan akademisi yang ahli di bidangnya, antara lain Prof. Abdul Rahim Abdul Rahman (Deputy Vice-Chancellor (Academic and International), USIM (Universiti Sains Islam Malaysia)), Dr. Mohd. Rizal bin Muwazir (Senior Lecture University of Malaya), Dr. Cecep Maskanul Hakim (Analis Bank Senior, Bank Indonesia dan Dewan Pengurus Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS)), serta Dr. Herbudhi Setio Tomo (Direktur Eksekutif Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO)).

 

Dalam kegiatan Seminar Internasional ini, Prof. Abdul Rahim Abdul Rahman dan Dr. Mohd. Rizal bin Muwazir berkesempatan untuk menyampaikan materi mengenai kerangka kerja serta tata kelola syariah dalam lembaga keuangan syariah di Malaysia. Bank Negara Malaysia memastikan bahwa keseluruhan operasional sistem keuangan syariahnya sudah berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, hal tersebut didukung dengan diluncurkannya Guideline on Corporate Governance for Licensed Islamic Banks (BNM/GP1-i) dan Shariah Governance Framework 2011 (SGF 2011).

 

Berkaitan dengan tata kelola syariah yang diterapkan di bank syariah di Indonesia, Dr. Cecep Maskanul Hakim menjelaskan tentang konsep tata kelola syariah berdasarkan Dewan Syariah Nasional. Beliau menjelaskan bahwa tata kelola untuk Bank Syariah dan Unit Bisnis Syariah di Indonesia sudah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/33/PBI/2009 dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/13/DPbS. Sementara itu, Dr. Herbudhi S. Tomo memaparkan tentang implementasi Good Corporate Governance (GCG) di bank syariah. Dalam pengimplementasiannya, GCG diawali dengan membangun komitmen, lalu melengkapi dan menempatkan sumber daya yang tepat pada struktur perusahaan, kemudian prinsip-prinsip GCG dibuat melekat dalam kebijakan, pedoman, dan prosedur kerja, serta aturan internal lainnya. Selain itu, untuk memastikan jajaran perusahan dapat mengimplementasikan prinsip-prinsip GCG yang telah diinternalisasi dalam sistem perusahaan, maka tahapan berikutnya adalah mensosialisasikannya kepada jajaran perusahaan. Pada akhirnya, keberhasilan implementasi GCG tidak didapatkan secara instan, maka konsistensi dan keberlanjutan implementasi prinsip-prinsip GCG menjadi kunci penting dalam implementasi GCG.

 

Melalui seminar internasional yang menyajikan dua komparasi dalam tata kelola syariah di lembaga keuangan syariah di masing-masing negara, diharapkan bagi para peserta seminar dan workshop mampu memahami kondisi serta perbedaan di antara kedua negara tersebut, yakni Indonesia dan Malaysia. (STESIV/Nurul Mulia Wati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *