Problematika SDM Perbankan Syariah

STES NEWSOleh Cut Nurhalimah

PERBANKAN syariah adalah lembaga bank yang dikelola dengan prinsip-prinsip syariah. Kehadiran atau pendirian perbankan syariah, hendaklah bertolak dari kondisi obyektif dengan adanya keputusan umat atau tuntutan perekonomian. Kemudian, agar bank syariah bisa bertahan dan berkembang, pengelolaan kelembagaannya haruslah kredibel dan pelaksanaan kegiatan usahanya haruslah profesional. Berkembangnya bank-bank syariah di Indonesia, tentunya harus ada dukungan dari manajemen sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sebab, tidak mungkin suatu bank syariah dapat mencapai kesuksesan tanpa manajemen SDM syariah yang berkulitas.

Satu problema yang tak kalah rumit dihadapi bank syariah, yaitu: Pertama, persoalan sumber daya manusia. Dalam hal ini maraknya perbankan syariah di Indonesia tidak diimbangi dengan SDM yang memadai. Terutama SDM yang memiliki latar belakang pengetahuan dalam bidang perbankan syariah. Kedua, kurangnya akademisi perbankan syariah, di mana banyak pendidikan yang lebih berorientasi pada pengenalan ekonomi konvensional dari pada ekonomi Islam, yang pada gilirannya perhatian terhadap ekonomi Islam khususnya perbankan syariah terabaikan dan kurang mendapatkan perhatian.

Perkembangan perbankan syariah ini tentunya juga harus didukung oleh sumber daya manusia (insani) yang memadai, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitasnya. Namun, realitas yang ada menunjukkan bahwa masih banyak SDM yang selama ini terlibat dalam institusi syariah, tidak memiliki pengalaman akademis dan praktis dalam Islamic Banking. Tentunya kondisi ini cukup signifikan mempengaruhi produktivitas dan profesionalisme perbankan syariah itu sendiri.

Semangat keislaman
Satu faktor yang menentukan peningkatan kinerja lembaga bank adalah tersedianya SDM dan infrastruktur pendukung yang berkualitas. SDM yang berkualitas yang dibutuhkan oleh bank syariah adalah SDM yang secara keilmuan paham tentang konsep bank syariah dan ekonomi syariah, dan secara psikologis dia memiliki semangat keislaman yang tinggi. SDM yang hanya mengerti tentang ilmu bank syariah dan ekonomi syariah saja, tetapi tidak memiliki semangat keislaman yang tinggi, maka ilmunya bagai tidak ada ruh. Sehingga dalam beraktivitas sehari-hari dia tidak ada rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa tanggung jawab (sense of responsibility) terhadap kemajuan bank syariah.

Sebaliknya, SDM yang hanya memiliki semangat keislaman yang tinggi tetapi tidak memiliki ilmu tentang bank syariah atau ekonomi syariah, dia bagaikan orang yang berjalan tanpa arah. Sampai saat ini masih jarang praktisi perbankan syariah yang memiliki kedua hal tersebut. Sehingga bank syariah harus mulai berpikir untuk mengembangkan SDM yang dimiliki agar seimbang kemampuannya dalam ilmu bank syariah dan secara psikologis juga mampu membangun semangat keislaman dalam dirinya.

Upaya mempersiapkan kualifikasi SDM perbankan syariah di masa depan, terutama diarahkan kepada upaya peningkatan profesionalisme yang tidak hanya berkaitan dengan masalah keahlian dan keterampilan saja, namun yang jauh lebih penting adalah menyangkut komitmen moral dan etika bisnis yang mendalam atas profesi yang dijalaninya. Pemahaman dan perwujudan tidak nyata dari nilai-nilai moral agamis merupakan persyaratan mutlak bagi pelaku perbankan syariah masa depan.

Dengan memahami simpul-simpul permasalahan yang terjadi dan kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan, dalam rangka mewujudkan kualitas SDM perbankan syariah, perlu difokuskan pada upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan pemahaman aspek-aspek yang terkait, seperti pemegang saham serta pengelola/pengurus perbankan syariah. Tantangan dan sekaligus peluang besar yang memerlukan perjuangan dengan nilai ibadah yang tinggi, perlu secara terus menerus dilakukan oleh kalangan lembaga keuangan dan pendidikan syariah dalam rangka menumbuhkan SDM perbankan syariah yang ikhsan, guna memantapkan pengembangan usaha perbankan syariah untuk dapat mengatasi persaingan dalam lingkungan mekanisme pasar, baik Nasional maupun global.

Dalam rangka mengatasi kendala-kendala tersebut, maka diperlukan sebuah upaya yang serius dalam rangka pengembangan bank syariah ke depan: Pertama, peningkatan kualitas SDM di bidang perbankan syariah. Salah satunya perlu mengembangkan sistem pendidikan yang mengintegrasikan teori dan praktik perbankan syariah dalam rangka meningkatkan integritas bank syariah di tengah-tengah masyarakat.

Kedua, perlunya upaya-upaya yang lebih progresif dari semua pihak yang concern terhadap keberadaan dan pengembangan bank syari’ah baik dari kalangan pemerintah, ulama, praktisi perbankan terutama kalangan akademisi. Dan, ketiga, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada bank konvensional untuk membuka kantor cabang syariah, yang mampu secara legalitas maupun materi, untuk mendirikan Bank Umum Syariah di seluruh pelosok negeri.

Butuh SDM ikhsan
SDM yang dibutuhkan oleh perbankan syariah adalah sosok SDM yang memiliki kapabilitas dalam bidang ekonomi dan dipadukan dengan kapabilitas syariah. Dengan ini dapat dikatakan, bahwa secara ideal, lembaga keuangan syariah ke depan akan sangat membutuhkan SDM yang ikhsan.

Upaya membangun SDM perbankan syariah yang ikhsan, di masa yang akan datang adalah tugas yang sangat berat. Tugas ini seharusnya dilakukan bersama, baik oleh pemerintah maupun oleh kalangan profesi para pelaku bisnis lembaga keuangan syariah, serta dunia pendidikan. Dengan demikian, dunia pendidikan harus ikut berperan aktif dan proaktif dalam membentuk dan menyediakan SDM yang berkualifikasi ikhsan tersebut.

Dalam praktiknya, hingga saat ini kebanyakan SDM di lembaga keuangan syariah tidak berasal dari lulusan ekonomi Islam, tapi dari jurusan lain. Pengetahuan syariah mereka umumnya diperoleh melalui pelatihan-pelatihan teknis yang diselenggarakan secara internal oleh bank atau kursus-kursus singkat yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pelatihan perbankan syariah. Inilah yang harus mendapat perhatian dari kita semua, yakni mencetak SDM yang mampu mengamalkan ekonomi syariah di semua lini karena sistem yang baik tidak mugkin dapat berjalan bila tidak di dukung oleh sumber daya insani yang baik pula.

Peran SDM dalam organisasi atau perusahaan mempunyai arti yang sama pentingnya dengan pekerjaan itu sendiri, mengingat pentignya SDM dalam organisasi. SDM sebagai faktor penentu organisasi, maka kompetensi menjadi aspek yang menentukan keberhasilan organisasi dengan kompetensi yang tinggi yang dimiliki oleh sumber daya manusia. Hal ini akan menentukan kualitas SDM yang dimiliki, yang pada akhirnya akan menentukan kualitas kompetitif perusahaan itu sendiri.

SDM perbankan syariah diharapkan memiliki akhlak dan kompetensi yang dilandasi oleh sifat-sifat yang dapat dipercaya (amanah), memiliki integritas yang tinggi (shiddiq), dan senantiasa membawa dan menyebarkan kebaikan (tabligh), serta memiliki keahlian dan pengetahuan yang handal (fathanah). Oleh karena itu, idealnya SDM yang bekerja di bank-bank syariah adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kompetensi yang tinggi di bidang keuangan, serta memahami prinsip-prinsip syariah.

* Cut Nur Halimah, Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Hukum Islam Konsentrasi Keuangan dan Perbankan Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Email: cut.ima49@yahoo.com

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *